Rabu, 14 Oktober 2015

15.120.0016



Dalam menilai persediaan ada beberapa cara yang dapat digunakan diantaranya dengan:
1.         Cara first in, first out (FIFO-Methode), diasumsikan bahwa harga barang yang sudah terjual dinilai menurut harga pembelian yang masuk dahulu
2.         Cara rata-rata tertimbang (Weighted Average Methode), cara ini berbeda dengan cara yang telah dijelaskan sebelumnya karena didasarkan atas rata-rata harga dimana harga tersebut di pengaruhi oleh jumlah barang yang diperoleh pada masing-masing harganya.
3.         Cara Last In, First Out (LIFO-Methode), bilamana keadaan harga stabil, maka semua cara penilaian menghasilkan angka yang sama.
Kebanyakan para pengembang sistem informasi lebih menyukai menggunakan model LIFO dan  Average, karena model ini lebih mudah dalam pembuatannya. Sehingga sulit sekali kita menemukan sistem informasi inventory model FIFO, kecuali dengan pesanan khusus dan tentunnya harganya juga lebih mahal karena pembuatannya cukup rumit. Kekurangtahuan pengguna sistem juga terkadang mengabaikannya. Padahal untuk produk-produk tertentu model LIFO dan Average kurang cocok digunakan, misal untuk perusahaan dagang yang menjual produk makanan dan obat-obatan. Untuk meminimalisir terjadinya kerugian karena kadaluarsa sebaiknya kita menggunakan model FIFO.  Selain itu Sistem Informasi Inventory model FIFO bisa menekan terjadinya penyelewengan keuangan oleh pihak pegawai operasional dan karena Laporan Persediaan dan Laba Rugi dinilai dengan harga real.
Untuk lebih jelas akan saya uraikan dalam sebuh contoh sebagai berikut :
Tanggal
Uraian
Quantity
Harga Satuan
Jumlah Harga
25/02/2015
Pembelian Beras Setra Wangi
800 Kg
10.000
8.000.000
28/02/2015
Pembelian Beras Setra Wangi
1500 Kg
11.000
16.500.000

Total
2.300 Kg

24.500.000
Untuk contoh kasus di atas jika kita menggunakan sistem informasi inventory yang sekarang banyak dipergunakan, maka harga yang di ambil adalah harga terakhir atau harga rata-rata. Jika harga terakhir yang digunakan maka nilai persediaan menjadi (2.300 x 11.000 = 25.300.000) maka akan terjadi selisih (25.300.000 – 24.500.000 = 800.000). Jika bagian akunting tidak teliti dan tidak melakukan jurnal penyesuaian dari selisih tersebut, maka uang tersebut akan menguap, karena laporan persediaan yang sampai kepada pemilik adalah Rp. 25.300.000, sedangkan uang yang keluar hanya 24.500.000.
Sekarang kita lihat kalau terjadi transaksi penjualan. Misal pada tanggal 1 Maret 2015 terjadi penjualan barang tersebut sebesar 2.300 Kg dengan harga @ Rp. 15.000,-.  Maka sistem akan mencatat (2.300 x 15.000 = 34.500.000), dan sistem akan mengkalkulasi laba kotor sebesar (34.500.000 – 25.300.000 = 9.200.000).
Jila kita menggunakan Sistem Informasi Inventory model FIFO, maka jumlah persediaan akan dicatat real sesuai harga pembelian yaitu sebesar 24.500.000. Dan dalam pencatatan laba kotor penjualannya juga akan dikalkulasi sesuai harga beli, sebagai berikut :
·            800 kg x 15.000 = 12.000.000 – 8.000.000 = 4.000.000
·            1500 kg x 15.000 = 22.500.000 – 16.500.000 = 6.000.000
Dengan demikian maka total laba kotor penjualan menjadi (4.000.000 + 6.000.000 = 10.000.000). Terdapat selisih laba (10.000.000 – 9.200.000 = 800.000) selisih laba tersebut jika bagian akunting tidak teliti maka akan menguap. Maka dari itulah penerapan Sistem Informasi Inventory model FIFO menjadi sangat diperlukan untuk memperoleh nilai REAL dari kegiatan bisnis pembelian dan penjualan barang.
Berikut saya sampaikan rancangan database jika kita ingin menerapkan model FIFO dalan Sistem Informasi Inventory.
                                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar