Dalam menilai persediaan ada beberapa cara yang dapat
digunakan diantaranya dengan:
1.
Cara first
in, first out (FIFO-Methode), diasumsikan bahwa harga barang yang sudah terjual
dinilai menurut harga pembelian yang masuk dahulu
2.
Cara
rata-rata tertimbang (Weighted Average Methode), cara ini berbeda dengan cara
yang telah dijelaskan sebelumnya karena didasarkan atas rata-rata harga dimana
harga tersebut di pengaruhi oleh jumlah barang yang diperoleh pada
masing-masing harganya.
3.
Cara Last
In, First Out (LIFO-Methode), bilamana keadaan harga stabil, maka semua cara
penilaian menghasilkan angka yang sama.
Kebanyakan para pengembang sistem informasi lebih
menyukai menggunakan model LIFO dan Average, karena model ini
lebih mudah dalam pembuatannya. Sehingga sulit sekali kita menemukan sistem informasi
inventory model FIFO, kecuali dengan pesanan khusus dan tentunnya
harganya juga lebih mahal karena pembuatannya cukup rumit. Kekurangtahuan
pengguna sistem juga terkadang mengabaikannya. Padahal untuk produk-produk tertentu
model LIFO dan Average kurang cocok digunakan, misal untuk
perusahaan dagang yang menjual produk makanan dan obat-obatan. Untuk
meminimalisir terjadinya kerugian karena kadaluarsa sebaiknya kita menggunakan
model FIFO. Selain itu Sistem Informasi Inventory model FIFO
bisa menekan terjadinya penyelewengan keuangan oleh pihak pegawai operasional
dan karena Laporan Persediaan dan Laba Rugi dinilai dengan harga real.
Untuk lebih jelas akan saya uraikan dalam sebuh contoh
sebagai berikut :
|
Tanggal
|
Uraian
|
Quantity
|
Harga
Satuan
|
Jumlah
Harga
|
|
25/02/2015
|
Pembelian
Beras Setra Wangi
|
800 Kg
|
10.000
|
8.000.000
|
|
28/02/2015
|
Pembelian
Beras Setra Wangi
|
1500 Kg
|
11.000
|
16.500.000
|
|
Total
|
2.300 Kg
|
24.500.000
|
Untuk contoh kasus di atas jika kita menggunakan
sistem informasi inventory yang sekarang banyak dipergunakan, maka harga yang
di ambil adalah harga terakhir atau harga rata-rata. Jika harga terakhir yang
digunakan maka nilai persediaan menjadi (2.300 x 11.000 = 25.300.000) maka akan
terjadi selisih (25.300.000 – 24.500.000 = 800.000). Jika bagian akunting tidak
teliti dan tidak melakukan jurnal penyesuaian dari selisih tersebut, maka uang
tersebut akan menguap, karena laporan persediaan yang sampai kepada pemilik
adalah Rp. 25.300.000, sedangkan uang yang keluar hanya 24.500.000.
Sekarang kita lihat kalau terjadi transaksi penjualan.
Misal pada tanggal 1 Maret 2015 terjadi penjualan barang tersebut sebesar 2.300
Kg dengan harga @ Rp. 15.000,-. Maka sistem akan mencatat (2.300 x 15.000
= 34.500.000), dan sistem akan mengkalkulasi laba kotor sebesar (34.500.000 –
25.300.000 = 9.200.000).
Jila kita menggunakan Sistem Informasi Inventory model
FIFO, maka jumlah persediaan akan dicatat real sesuai harga pembelian
yaitu sebesar 24.500.000. Dan dalam pencatatan laba kotor penjualannya juga
akan dikalkulasi sesuai harga beli, sebagai berikut :
·
800 kg x
15.000 = 12.000.000 – 8.000.000 = 4.000.000
·
1500 kg x
15.000 = 22.500.000 – 16.500.000 = 6.000.000
Dengan demikian maka total laba kotor penjualan
menjadi (4.000.000 + 6.000.000 = 10.000.000). Terdapat selisih laba (10.000.000
– 9.200.000 = 800.000) selisih laba tersebut jika bagian akunting tidak teliti
maka akan menguap. Maka dari itulah penerapan Sistem Informasi Inventory model FIFO
menjadi sangat diperlukan untuk memperoleh nilai REAL dari kegiatan bisnis
pembelian dan penjualan barang.
Berikut saya sampaikan rancangan database jika kita
ingin menerapkan model FIFO dalan Sistem Informasi Inventory.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar