SISTEM PERSEDIAAN BARANG FIFO, LIFO, AVERAGE
Dalam menilai persediaan ada beberapa cara yang dapat
digunakan diantaranya dengan:
1.
Cara first
in, first out (FIFO-Methode), diasumsikan bahwa harga barang yang sudah terjual
dinilai menurut harga pembelian yang masuk dahulu
2.
Cara
rata-rata tertimbang (Weighted Average Methode), cara ini berbeda dengan cara
yang telah dijelaskan sebelumnya karena didasarkan atas rata-rata harga dimana
harga tersebut di pengaruhi oleh jumlah barang yang diperoleh pada
masing-masing harganya.
3.
Cara Last
In, First Out (LIFO-Methode), bilamana keadaan harga stabil, maka semua cara
penilaian menghasilkan angka yang sama.
Untuk menjelaskan ketiga metode ini dengan mudah,
mari lihat illustrasi di bawah ini:Illustrasi 1
-. Persediaan Awal – Nihil
-. Pembelian Persediaan 1/1/2014 – 40 Unit – Harga Pokok Rp 15,000 – Total Rp 600,000
-. Pembelian Persediaan 1/2/2014– 20 Unit – Harga Pokok Rp 17,000 – Total 340,000
-. Penjualan Persediaan – 45 Unit – Harga Jual Rp 20,000 – Total Rp 900,000
Pertanyaannya: Berdasarkan perhitungan di atas, stok akhir adalah 15 unit. Untuk menentukan nilai dari sisa 15 unit tersebut dan HPP, pakai harga pokok yang mana? Kebanyakan orang akan bilang, tentunya pakai yang 1/2/2014, karena sisa 15 unit itu adalah pembelian dari tanggal 1/2/2014. Tetapi berbeda orang bisa berbeda pendapat.
Oleh karena itulah, Metode Perhitungan Persediaan harus di pertimbangkan oleh manajemen dikarenakan bisa menentukan Laporan Keuangan yang berbeda-beda.
1) Metode FIFO/MPKP – Masuk Pertama Keluar Pertama
Metode ini artinya, Harga yang digunakan untuk menghitung nilai stok akhir dan HPP adalah Harga barang yang dibeli oleh perusahaan terlebih dahulu. Jadi Harga Barang yang Masuk Pertama (Beli Pertama), adalah yang Keluar Pertama (Digunakan pertama). Mari lihatlah contoh berikut ini:
Contoh Metode FIFO:
Mengikuti illustrasi 1 di atas, dengan metode FIFO – nilai stok akhir, HPP, dan Laba adalah:
-. 40 unit x Rp 15,000 = Rp 600,000 (40 unit di beli terlebih dahulu, keluar dahulu)
-. 5 unit x Rp 17,000 = Rp 85,000 (5 unit di beli setelah 40 unit, maka keluar kedua)
-. HPP = Rp 600,000 + Rp 85,000 = Rp 685,000
-. Laba = Rp 900,000 – Rp 685,000 = Rp 215,000
-. Nilai Stok Akhir = 15 x Harga pokok 1/2/2014 (Rp 17,000) = Rp 255,000
Metode FIFO menghasilkan nilai stok akhir yang tinggi dan HPP yang rendah, sehingga menghasilkan Laba Bersih yang tinggi.
2) Metode LIFO/MTKP – Masuk Terakhir Keluar Pertama
Metode ini artinya, Harga yang digunakan untuk menghitung nilai stok akhir dan HPP adalah Harga barang yang dibeli terakhir oleh perusahaan. Jadi Masuk (Beli) Terakhir, Keluar (Dipakai) Pertama. Untuk lebih mudah, lihatlah contoh berikut ini:
Contoh Metode LIFO:
Mengikuti illustrasi 1 di atas, dengan metode LIFO – nilai stok akhir, HPP, dan Laba adalah:
-. 20 unit x Rp 17,000 = Rp 340,000 (20 unit di beli terakhir, keluar dahulu)
-. 25 unit x Rp 15,000 = Rp 375,000 (25 unit di beli pertama, keluar terakhir)
-. HPP = Rp 340,000 + Rp 375,000 = Rp 715,000
-. Laba = Rp 900,000 – Rp 715,000 = Rp 185,000
-. Nilai Stok Akhir = 15 x Harga Barang Beli yang 1/1/2014 (Rp 15,000) = Rp 225,000
Metode LIFO menghasilkan nilai stok akhir yang rendah, HPP yang tinggi, sehingga menghasilkan Laba Bersih yang rendah.
3) Weighted Average Cost Method (Metode Rata-Rata Tertimbang)
Metode ini artinya, Harga yang dipakai untuk menghitung nilai stok akhir dan HPP adalah dengan menghitung nilai rata-rata (harga persediaan awal +semua pembelian) pada periode tersebut. Mari kita lihat contoh di bawah ini:
Mengikuti illustrasi 1 di atas, dengan metode rata-rata tertimbang – nilai stok akhir, HPP, dan Laba adalah:
-. Harga Pokok Rata-Rata = (Persediaan Awal + Pembelian) / Jumlah Unit digabung
-. (Rp 600,000 + Rp 340,000)/60 Unit = Rp 15,667.
-. HPP = 45 Unit x 15,667 = Rp 705,015
-. Laba = Rp 900,000 – Rp 705,015 = Rp 194,985
-. Nilai Stok Akhir = 15 x Rp 15,667 = Rp 235,005
Metode Rata-Rata Tertimbang menghasilkan nilai stok akhir, HPP dan Laba Bersih yang nilainya berada diantara metode FIFO dan LIFO. Dibandingkan dua metode lainnya, Metode Rata-Rata Tertimbang adalah penilaian yang realistis, khusunya jika stoknya ternyata bercampur-campur.
Kebanyakan para pengembang sistem informasi lebih
menyukai menggunakan model LIFO dan Average, karena model ini
lebih mudah dalam pembuatannya. Sehingga sulit sekali kita menemukan sistem informasi
inventory model FIFO, kecuali dengan pesanan khusus dan tentunnya
harganya juga lebih mahal karena pembuatannya cukup rumit. Kekurangtahuan
pengguna sistem juga terkadang mengabaikannya. Padahal untuk produk-produk tertentu
model LIFO dan Average kurang cocok digunakan, misal untuk
perusahaan dagang yang menjual produk makanan dan obat-obatan. Untuk
meminimalisir terjadinya kerugian karena kadaluarsa sebaiknya kita menggunakan
model FIFO. Selain itu Sistem Informasi Inventory model FIFO
bisa menekan terjadinya penyelewengan keuangan oleh pihak pegawai operasional
dan karena Laporan Persediaan dan Laba Rugi dinilai dengan harga real.
Untuk lebih jelas akan saya uraikan dalam sebuah
contoh sebagai berikut :
|
Tanggal
|
Uraian
|
Quantity
|
Harga
Satuan
|
Jumlah
Harga
|
|
25/02/2015
|
Pembelian
Beras Setra Wangi
|
800 Kg
|
10.000
|
8.000.000
|
|
28/02/2015
|
Pembelian
Beras Setra Wangi
|
1500 Kg
|
11.000
|
16.500.000
|
|
Total
|
2.300 Kg
|
24.500.000
|
Untuk contoh kasus di atas jika kita menggunakan
sistem informasi inventory yang sekarang banyak dipergunakan, maka harga yang
di ambil adalah harga terakhir atau harga rata-rata. Jika harga terakhir yang
digunakan maka nilai persediaan menjadi (2.300 x 11.000 = 25.300.000) maka akan
terjadi selisih (25.300.000 – 24.500.000 = 800.000). Jika bagian akunting tidak
teliti dan tidak melakukan jurnal penyesuaian dari selisih tersebut, maka uang
tersebut akan menguap, karena laporan persediaan yang sampai kepada pemilik
adalah Rp. 25.300.000, sedangkan uang yang keluar hanya 24.500.000.
Sekarang kita lihat kalau terjadi transaksi penjualan.
Misal pada tanggal 1 Maret 2015 terjadi penjualan barang tersebut sebesar 2.300
Kg dengan harga @ Rp. 15.000,-. Maka sistem akan mencatat (2.300 x 15.000
= 34.500.000), dan sistem akan mengkalkulasi laba kotor sebesar (34.500.000 –
25.300.000 = 9.200.000).
Jila kita menggunakan Sistem Informasi Inventory model
FIFO, maka jumlah persediaan akan dicatat real sesuai harga pembelian
yaitu sebesar 24.500.000. Dan dalam pencatatan laba kotor penjualannya juga
akan dikalkulasi sesuai harga beli, sebagai berikut :
·
800 kg x
15.000 = 12.000.000 – 8.000.000 = 4.000.000
·
1500 kg x
15.000 = 22.500.000 – 16.500.000 = 6.000.000
Dengan demikian maka total laba kotor penjualan
menjadi (4.000.000 + 6.000.000 = 10.000.000). Terdapat selisih laba (10.000.000
– 9.200.000 = 800.000) selisih laba tersebut jika bagian akunting tidak teliti
maka akan menguap. Maka dari itulah penerapan Sistem Informasi Inventory model FIFO
menjadi sangat diperlukan untuk memperoleh nilai REAL dari kegiatan bisnis
pembelian dan penjualan barang.
Contoh Metode LIFO:
Mengikuti illustrasi 1 di atas, dengan metode LIFO – nilai stok akhir, HPP,
dan Laba adalah:
-. 20 unit x Rp 17,000 = Rp 340,000 (20 unit di beli terakhir, keluar
dahulu)
-. 25 unit x Rp 15,000 = Rp 375,000 (25 unit di beli pertama, keluar
terakhir)
-. HPP = Rp 340,000 + Rp 375,000 = Rp 715,000
-. Laba = Rp 900,000 – Rp 715,000 = Rp 185,000
-. Nilai Stok Akhir = 15 x Harga Barang Beli yang 1/1/2014 (Rp
15,000) = Rp 225,000
Metode LIFO menghasilkan nilai stok akhir yang rendah, HPP yang tinggi,
sehingga menghasilkan Laba Bersih yang rendah.
Mengikuti illustrasi 1 di atas, dengan metode rata-rata tertimbang – nilai
stok akhir, HPP, dan Laba adalah:
-. Harga Pokok Rata-Rata = (Persediaan Awal + Pembelian) / Jumlah Unit
digabung
-. (Rp 600,000 + Rp 340,000)/60 Unit = Rp 15,667.
-. HPP = 45 Unit x 15,667 = Rp 705,015
-. Laba = Rp 900,000 – Rp 705,015 = Rp 194,985
-. Nilai Stok Akhir = 15 x Rp 15,667 = Rp 235,005
Metode Rata-Rata Tertimbang menghasilkan nilai stok akhir, HPP dan Laba
Bersih yang nilainya berada diantara metode FIFO dan LIFO. Dibandingkan dua
metode lainnya, Metode Rata-Rata Tertimbang adalah penilaian yang realistis,
khusunya jika stoknya ternyata bercampur-campur.
KESIMPULANNYA
Bila melihat kelebihan metode LIFO, seharusnya banyak perusahaan di
Indonesia yang menggunakannya. Namun, karena ada peraturan perpajakan melarang
penggunakan metode LIFO, walaupun peraturan Akuntansi memperbolehkannya, banyak
perusahaan tidak menggunakan metode tersebut, dikarenakan perusahaan harus
membuat Laporan Keuangan yang berbeda untuk tujuan pajak dan perusahaan.
Setiap metode mempunyai keunggulan dan kelemahannya sendiri. Untuk di
Indonesia, pilihan metodenya menjadi sisa dua yaitu, FIFO dan Weighted Average
Method. Ada beberapa perusahaan yang memilih Weighted Average Method
dikarenakan lebih mudah dan laba lebih mendekati metode LIFO, dimana Pajak yang
harus di bayarkan lebih sedikit di bandingkan FIFO.
Tetapi, ada beberapa perusahaan yang mempunyai beberapa investor yang mau
melihat bahwa perusahaannya labanya naik terus, agar saham perusahaannya bisa
tetap naik, mungkin memilih FIFO sebagai metode penilaian persediaan, dengan
pajak yang dibayarkan lebih mahal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar