Kamis, 15 Oktober 2015

15.120.0014 - MARIA DHEA - TUGAS PTI



Siklus Persediaan Barang dengan Metode FIFO, LIFO dan Average
PENGERTIAN TENTANG LIFO, FIFO, AVERAGE
  1. Cara first in, first out (FIFO-Methode), diasumsikan bahwa harga barang yang sudah terjual dinilai menurut harga pembelian yang masuk dahulu
  2. Cara rata-rata tertimbang (Weighted Average Methode), cara ini berbeda dengan cara yang telah dijelaskan sebelumnya karena didasarkan atas rata-rata harga dimana harga tersebut di pengaruhi oleh jumlah barang yang diperoleh pada masing-masing harganya.
  3. Cara Last In, First Out (LIFO-Methode), bilamana keadaan harga stabil, maka semua cara penilaian menghasilkan angka yang sama.

SISTEM PERSEDIAN BARANG DAGANG DENGAN SISTEM TERSEBUT Untitled

Berikut adalah kelemahan serta keunggulan sistem persediaan barang dagang dengan metode LIFO, FIFO, AVERAGE
FIFO – KEUNGGULAN
-. Laba yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan metode lainnya, yang bisa membuat pandangan yang lebih baik terhadap performance perusahaan.
-. Pengukuran stok akhir lebih tepat dikarenakan menggunakan ongkos barang yang di beli terlebih dahulu.
FIFO – KELEMAHAN
-. Dikarenakan Laba yang dihasilkan lebih tinggi, jumlah pajak yang harus di bayarkan adalah lebih tinggi.
LIFO – KEUNGGULAN
-. Keuntungan pajak dikarenakan Laba lebih rendah, jadi pajak lebih kecil
-. Pengukuran Laba yang lebih baik karena nilai stok memakai biaya terbaru.
LIFO – KELEMAHAN
-. Laba menjadi lebih kecil, maka buruk untuk di evaluasi oleh pemegang saham.
-. Nilai stok akhir lebih maka buruk bila di evaluasi oleh pemegang saham.
-. Undang Undang Perpajakan Indonesia melarang penggunaan LIFO.
WEIGHTED AVERAGE COST – KEUNGGULAN
-. Lebih praktis untuk melaksanakannya.
-. Laba yang lebih kecil – maka pajak lebih murah
-. Nilai stok akhir lebih kecil.
WEIGHTED AVERAGE COST – KELEMAHAN
-. Laba menjadi lebih kecil – buruk untuk di evaluasi oleh pemegang saham.
-. Nilai stok akhir lebih – buruk bila di evaluasi oleh pemegang saham.



Jadi bila disimpulkan, Bila melihat kelebihan metode LIFO, seharusnya banyak perusahaan di Indonesia yang menggunakannya. Namun, karena ada peraturan perpajakan melarang penggunakan metode LIFO, walaupun peraturan Akuntansi memperbolehkannya, banyak perusahaan tidak menggunakan metode tersebut, dikarenakan perusahaan harus membuat Laporan Keuangan yang berbeda untuk tujuan pajak dan perusahaan.
Setiap metode mempunyai keunggulan dan kelemahannya sendiri. Untuk di Indonesia, pilihan metodenya menjadi sisa dua yaitu, FIFO dan Weighted Average Method. Ada beberapa perusahaan yang memilih Weighted Average Method dikarenakan lebih mudah dan laba lebih mendekati metode LIFO, dimana Pajak yang harus di bayarkan lebih sedikit di bandingkan FIFO.
Tetapi, ada beberapa perusahaan yang mempunyai beberapa investor yang mau melihat bahwa perusahaannya labanya naik terus, agar saham perusahaannya bisa tetap naik, mungkin memilih FIFO sebagai metode penilaian persediaan, dengan pajak yang dibayarkan lebih mahal.















                                                          


CONTOH CARA PENGHITUNGAN DENGAN CARA LIFO, FIFO, AVERAGE:
CATATAN PERSEDIAAN BARANG
PT. SUKSES JUANEVA
PER 31 DES 2014

Tanggal
Penjelasan
Jumlah
Harga Beli Per Unit

Harga Jual Per Unit

1 Januari
Saldo Awal
100 Unit
Rp 8.000.000

6 Januari
Pembelian
60 Unit
Rp 9.000.000

14 Januari
Penjualan
70 Unit

Rp 20.000.000
20 Januari
Pembelian
150 Unit
Rp 9.000.000

24 Januari
Penjualan
210 Unit

Rp 22.000.000
28 Januari
Pembelian
90 Unit
Rp 10.000.000

30 Januari
Penjualan
30 Unit

Rp 25.000.000

Catatan perusahaan menunjukan bahwa beban usaha untuk bulan Januari 2016 besarnya  Rp 1.900.000.000.

PT. LAPORAN RUGI LABA
PERIODE 31 JANUARI 2016

LIFO
FIFO
AVERAGE
Penjualan
Rp 6.770.000.000
Rp 7.660.000.000
Rp 6.770.000.000
Harga Pokok Penjualan



Persediaan Awal
Rp    800.000.000
Rp    800.000.000
Rp    800.000.000
Pembelian Bersih
Rp 2.790.000.000
Rp 2.790.000.000
Rp 2.790.000.000
Harga Pokok Barang Yang Dapat Dijual
Rp 3.590.000.000
Rp 3.590.000.000
Rp 3.590.000.000
Persediaan Akhir
Rp    720.000.000
Rp    900.000.000
Rp    808.000.000
Harga Pokok Penjualan
Rp 2.870.000.000
Rp 2.690.000.000
Rp 2.782.000.000
Laba Kotor
Rp 3.900.000.000
Rp 4.080.000.000
Rp 3.988.000.000
Beban Usaha
Rp 1.900.000.000
Rp 1.900.000.000
Rp 1.900.000.000
Laba Bersih
Rp 2.000.000.000
Rp 2.180.000.000
Rp 2.088.000.000

Perhitungan :
Penjualan =  (70xRp20.000.000) + (210xRp22.000.000) + (30xRp 25.000.000)
=  Rp 1.400.000.000 + Rp 4.620.000.000 + Rp 750.000.000
=  Rp 6.770.000.000
Persediaan awal   = 100 x Rp 8.000.000
=  Rp 800.000.000
Pembelian  = (60xRp9.000.000) + (150x 9.000.000) + (90xRp 10.000.000)
= Rp 540.000.000 + Rp 1.350.000.000 + Rp 900.000.000
= Rp 2.790.000.000
Persediaan Akhir :
            FIFO = 90 x Rp 8.000.000 = Rp 720.000.000
            LIFO = 90 x Rp 10.000.000 = Rp 900.000.000
AVERAGE   = 90 x Rp 8.975.000= Rp 807.750.000 dibulatkan menjadi Rp 808.000.000
Jumlah Persediaan Akhir  = 100 + 60 – 70 + 150 – 210 + 90 – 30
= 90
Harga pokok barang yang dapat dijual
= (100xRp8.000.000) + (60x Rp9.000.000) + (150xRp 9.000.000) + (90x Rp 10.000.000)
= Rp 800.000.000 + Rp 540.000.000 + Rp 1.350.000.000 + Rp 900.000.000
= Rp 3.590.000.000

Rp 3.590.000.000/400 unit = Rp 8.975.000/unit

Jumlah barang untuk dijual = 400 unit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar