Siklus Persediaan Barang dengan
Metode FIFO, LIFO dan Average
PENGERTIAN TENTANG LIFO,
FIFO, AVERAGE
- Cara first in, first out (FIFO-Methode), diasumsikan bahwa harga barang yang sudah terjual dinilai menurut harga pembelian yang masuk dahulu
- Cara rata-rata tertimbang (Weighted Average Methode), cara ini berbeda dengan cara yang telah dijelaskan sebelumnya karena didasarkan atas rata-rata harga dimana harga tersebut di pengaruhi oleh jumlah barang yang diperoleh pada masing-masing harganya.
- Cara Last In, First Out (LIFO-Methode), bilamana keadaan harga stabil, maka semua cara penilaian menghasilkan angka yang sama.
FIFO – KEUNGGULAN
-. Laba yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan metode lainnya, yang bisa membuat pandangan yang lebih baik terhadap performance perusahaan.
-. Pengukuran stok akhir lebih tepat dikarenakan menggunakan ongkos barang yang di beli terlebih dahulu.
FIFO – KELEMAHAN
-. Dikarenakan Laba yang dihasilkan lebih tinggi, jumlah pajak yang harus di bayarkan adalah lebih tinggi.
LIFO – KEUNGGULAN
-. Keuntungan pajak dikarenakan Laba lebih rendah, jadi pajak lebih kecil
-. Pengukuran Laba yang lebih baik karena nilai stok memakai biaya terbaru.
LIFO – KELEMAHAN
-. Laba menjadi lebih kecil, maka buruk untuk di evaluasi oleh pemegang saham.
-. Nilai stok akhir lebih maka buruk bila di evaluasi oleh pemegang saham.
-. Undang Undang Perpajakan Indonesia melarang penggunaan LIFO.
WEIGHTED AVERAGE COST – KEUNGGULAN
-. Lebih praktis untuk melaksanakannya.
-. Laba yang lebih kecil – maka pajak lebih murah
-. Nilai stok akhir lebih kecil.
WEIGHTED AVERAGE COST – KELEMAHAN
-. Laba menjadi lebih kecil – buruk untuk di evaluasi oleh pemegang saham.
-. Nilai stok akhir lebih – buruk bila di evaluasi oleh pemegang saham.
Jadi bila disimpulkan, Bila melihat kelebihan metode LIFO, seharusnya banyak perusahaan di Indonesia yang menggunakannya. Namun, karena ada peraturan perpajakan melarang penggunakan metode LIFO, walaupun peraturan Akuntansi memperbolehkannya, banyak perusahaan tidak menggunakan metode tersebut, dikarenakan perusahaan harus membuat Laporan Keuangan yang berbeda untuk tujuan pajak dan perusahaan.
Setiap metode mempunyai keunggulan dan kelemahannya sendiri. Untuk di Indonesia, pilihan metodenya menjadi sisa dua yaitu, FIFO dan Weighted Average Method. Ada beberapa perusahaan yang memilih Weighted Average Method dikarenakan lebih mudah dan laba lebih mendekati metode LIFO, dimana Pajak yang harus di bayarkan lebih sedikit di bandingkan FIFO.
Tetapi, ada beberapa perusahaan yang mempunyai beberapa investor yang mau melihat bahwa perusahaannya labanya naik terus, agar saham perusahaannya bisa tetap naik, mungkin memilih FIFO sebagai metode penilaian persediaan, dengan pajak yang dibayarkan lebih mahal.
CONTOH CARA PENGHITUNGAN DENGAN CARA LIFO, FIFO, AVERAGE:
CATATAN PERSEDIAAN BARANG
PT. SUKSES JUANEVA
PER 31 DES 2014
Tanggal
|
Penjelasan
|
Jumlah
|
Harga Beli Per
Unit
|
Harga Jual Per
Unit
|
1 Januari
|
Saldo Awal
|
100 Unit
|
Rp 8.000.000
|
|
6 Januari
|
Pembelian
|
60 Unit
|
Rp 9.000.000
|
|
14 Januari
|
Penjualan
|
70 Unit
|
Rp 20.000.000
|
|
20 Januari
|
Pembelian
|
150 Unit
|
Rp 9.000.000
|
|
24 Januari
|
Penjualan
|
210 Unit
|
Rp 22.000.000
|
|
28 Januari
|
Pembelian
|
90 Unit
|
Rp 10.000.000
|
|
30 Januari
|
Penjualan
|
30 Unit
|
Rp 25.000.000
|
Catatan perusahaan
menunjukan bahwa beban usaha untuk bulan Januari 2016 besarnya Rp 1.900.000.000.
PT. LAPORAN RUGI LABA
PERIODE 31 JANUARI 2016
LIFO
|
FIFO
|
AVERAGE
|
|
Penjualan
|
Rp 6.770.000.000
|
Rp 7.660.000.000
|
Rp 6.770.000.000
|
Harga Pokok Penjualan
|
|||
Persediaan Awal
|
Rp 800.000.000
|
Rp 800.000.000
|
Rp 800.000.000
|
Pembelian Bersih
|
Rp 2.790.000.000
|
Rp 2.790.000.000
|
Rp 2.790.000.000
|
Harga Pokok Barang Yang Dapat Dijual
|
Rp
3.590.000.000
|
Rp
3.590.000.000
|
Rp
3.590.000.000
|
Persediaan Akhir
|
Rp 720.000.000
|
Rp 900.000.000
|
Rp
808.000.000
|
Harga Pokok Penjualan
|
Rp
2.870.000.000
|
Rp
2.690.000.000
|
Rp
2.782.000.000
|
Laba Kotor
|
Rp
3.900.000.000
|
Rp
4.080.000.000
|
Rp
3.988.000.000
|
Beban Usaha
|
Rp
1.900.000.000
|
Rp
1.900.000.000
|
Rp
1.900.000.000
|
Laba Bersih
|
Rp
2.000.000.000
|
Rp
2.180.000.000
|
Rp
2.088.000.000
|
Perhitungan :
Penjualan = (70xRp20.000.000) + (210xRp22.000.000) +
(30xRp 25.000.000)
= Rp 1.400.000.000 + Rp 4.620.000.000 + Rp
750.000.000
= Rp 6.770.000.000
Persediaan awal = 100 x Rp 8.000.000
= Rp 800.000.000
Pembelian = (60xRp9.000.000) + (150x 9.000.000) + (90xRp
10.000.000)
=
Rp 540.000.000 + Rp 1.350.000.000 + Rp 900.000.000
=
Rp 2.790.000.000
Persediaan Akhir :
FIFO = 90 x Rp 8.000.000 = Rp 720.000.000
LIFO = 90 x Rp 10.000.000 = Rp 900.000.000
AVERAGE = 90 x Rp 8.975.000= Rp 807.750.000
dibulatkan menjadi Rp 808.000.000
Jumlah Persediaan Akhir = 100 + 60 – 70 + 150 – 210 + 90 – 30
= 90
Harga pokok barang yang
dapat dijual
=
(100xRp8.000.000) + (60x Rp9.000.000) + (150xRp 9.000.000) + (90x Rp
10.000.000)
=
Rp 800.000.000 + Rp 540.000.000 + Rp 1.350.000.000 + Rp 900.000.000
=
Rp 3.590.000.000
Rp 3.590.000.000/400
unit = Rp 8.975.000/unit
Jumlah barang untuk
dijual = 400 unit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar