SIKLUS PENGOLAHAN DATA
YANG DIKEMBANGKAN
ORIGINATION : proses dari pengumpulan data yang biasanya merupakan
proses pencatatan (recording) data ke dokumen dasar.
INPUT :
proses dari pengumpulan data yang biasanya merupakan
proses pencatatan (recording) data ke dokumen dasar.
PROCESS :
proses pengolahan data yang sudah dimasukkan yang
dilakukan oleh alat pemroses (processing device), berupa proses menghitung,
membandingkan, mengklarifikasikan, mengurutkan, mengendalikan atau mencari di
storage.
OUTPUT :
proses menghasilkan keluaran / output dari hasil
pengolahan data ke alat output (output device), yaitu berupa informasi.
DISTRIBUTION : proses penyaluran hasil output
(informasi) kepada pihak/ komponen yang membutuhkan informasi tsb.
STORAGE :
proses perekaman hasil pengolahan data. hasil pengolahan dapat disimpan di
storage dan dapat diambil lagi untuk proses pengolahan data selanjut nya.
SISTEM
PERSEDIAAN BARANG BERDASARKAN SIKLUS PENGOLAHAN DATA YANG DIKEMBANGLKAN
Keterangan
gambar :
0.
Pada
Sistem Persediaan barang dagang akan disusun dengan apa proses pencatatan
barang dagangan, pembelian dan jenis persedian barang dagang yang masuk
1.
Pendataan
suplier, dimana pembelian barang diinputkan ke dalam perusahaaan.
2.
Pengelolaan
Barang, setelah data di inputkan ke dalam persediaan disitulah juga di susun
sebuah laporan. Laporan ini berisi seluruh barang yang baru masuk dn stok
persediaan yang masih tersisa. Dimana barang persediaan masuk dalam storage
atau ruang penyimpanan kemudian dikelola yang mana yang akan dikeluarkan sebagi
dengan sistem pencatatan yang telah disusun oleh perusahaan baik itu dengan
metode FIFO, LIFO atau AVERAGE.
3.
Barang
masuk, setelah pendataan dan pembuatan laporan selesai barulah perusahaaan
memasarkan barang dagangan. Dan membuatnya dengan laporan.
4.
Barang
keluar, sebagi output dari sistem barang persedian yang akan disajikan dalam
bentuk laporan purcashing,accounting, dll.
Penerapan
model sistem informasi perdagangan dengan FIFO :
Adapun
masalah yang kendala oleh
perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Sistem informasi yang digunakan masih semi
manual dalam pencatatan
pembelian
dan persediaan barang.
Rekomendasi
: Merancang sistem informasi akuntansi pembelian dan
persediaan yang terkomputerisasi. Dengan
pembuatan aplikasi
akuntansi yang dapat mempermudah dan
mempercepat
perusahaan dalam melakukan proses transaksi.
2. Belum terdapatnya link yang
menghubungkan data-data antar bagian purchasing, accounting
dan warehouse.
Rekomendasi
: Membuat aplikasi program yang saling terhubung. Dengan
terdapatnya
link yang menghubungkan data-data antar bagian
maka
dapat mempercepat arus
informasi pada perusahaan dan memudahkan dalam pencarian data. Selain juga
dirancang suatu
kontrol untuk dapat melihat
data-data tertentu sesuai dengan hak akses masing-masing bagian.
3. Adanya fungsi ganda pada bagian accounting, yaitu
sebagai finance dan accounting.
Rekomendasi
: Melakukan pemisahan fungsi finance
dan accounting.
Mengkaji
ulang dan melakukan pemisahan fungsi, tugas
dan wewenang
dalam struktur organisasi dengan memisahkan
bagian financial
dan accounting. Hal ini dimaksudkan agar selalu terjadi
pengecekan
internal (internal
check) dalam pelaksanaan suatu
transaksi,sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kecurangan.
4. Arus dokumen yang tidak efisien karena
melibatkan banyak pihak.
Rekomendasi
: Mengurangi keterlibatan beberapa pihak. Dengan melibatkan hanya
pihak-pihak yang penting dan terpercaya
dalam melakukan
pengecekan dan penandatanganan pada
dokumendokumen maka
akan mempercepat arus dokumen dalam
perusahaan.
5. Kontrol terhadap software program
kurang karena data hanya diketahui masingmasing bagian sehingga memungkinkan
terjadinya kecurangan.
Rekomendasi
: Meningkatkan kontrol terhadap software
program. Dengan
melakukan pembatasan di mana jika data
tersebut tidak dapat diedit
lagi jika sudah tersimpan. Sehingga dapat
menghasilkan laporan-
laporan yang terjamin.
Tabel Analisis Kebutuhan Informasi Persediaan
Barang
|
Informasi
|
Status
|
Keterangan
|
||
|
Ada
|
Tidak
|
Butuh
|
Belum
|
|
|
Nota Permohonan Pembelian dan
Penerimaan Barang
|
√
|
|
√
|
|
|
Surat Permintaan Penawaran Harga
|
|
√
|
√
|
|
|
Purchase Order
|
√
|
|
√
|
|
|
Nota Penerimaan Bahan dan Barang
|
√
|
|
√
|
|
|
Nota Penerimaan Produk
|
√
|
|
√
|
|
|
Nota Pengambilan Bahan dan Barang
|
√
|
|
√
|
|
|
Nota Pengambilan Produk
|
√
|
|
√
|
|
|
Bukti Kas Keluar
|
|
√
|
√
|
|
|
Surat Pemberitahuan Barang Rusak
|
|
√
|
√
|
|
|
Nota Retur Pembelian
|
|
√
|
√
|
|
|
Laporan Persediaan (Bahan, Barang)
|
√
|
|
√
|
|
|
Laporan Persediaan (Produk)
|
√
|
|
√
|
|
|
Laporan Pembelian
|
√
|
|
√
|
|
|
Laporan Penerimaan Bahan dan Barang
|
|
√
|
√
|
|
|
Laporan Penerimaan Produk
|
|
√
|
√
|
|
|
Laporan Pengambilan Bahan dan Barang
|
|
√
|
√
|
|
|
Laporan Pengambilan Produk
|
|
√
|
√
|
|
|
Laporan Pemberitahuan Barang Rusak
|
|
√
|
√
|
|
|
Laporan Retur Pembelian
|
|
√
|
√
|
|
|
Laporan Hutang
|
√
|
|
√
|
|
|
Laporan Pembayaran Pembelian
|
√
|
|
√
|
|
|
Laporan Kinerja Supplier
|
|
√
|
√
|
|
PERSEDIAAN
BARANG DAGANGAN
A. Pengertian Persediaan
Adalah
Barang-barang yang dimiliki oleh perusahaan pada suatu saat tertentu, dengan
maksud untuk dijual kembali baik scara langsung maupun melalui peroses produksi
dalam siklus operasi normal.
Berdasarkan jenis usahanya, persediaan
dapat di kelompokkan sbb :
1. Persediaan yang dimiliki perusahaan
dagang
Yaitu masuk ke dalam Persediaan Barang
Dagang
2. Persediaan yang dimiliki perusahaan
industri
-
Persediaan Bahan Baku dan Pembantu BOP
-
Persediaan barang dalam proses
-
Persediaan barang jadi
B. Penentuan Kuantitas Nilai Persediaan
Penentuan
Kuantitas Nilai Persediaan mempunyai peranan penting dalam penyusunan laporan
keuangan perusahaan. Prinsip-prinsip akuntansi menetapkan bahwa persediaan
harus dicatat dan dilaporkan sebesar harga perolehannya. Hal tersebut berlaku
baik bagi perusahaan yang menyelenggarakan metode fisik maupun perpetual.
- Di dalam akuntasi perusahaan dagang dikenal 2 macam sistem pencatatan persediaan yaitu :
a. Sistem Perpetual
Dalam
sistem ini, Nilai persediaan dicatat setiap hari pada saat terjadi pembelian
maka akan dimasukkan ke dalam akun “Persediaan Barang”. Dan pada saat terjadi
transaksi penjualan , maka akan mengurangi barang yang brsangkutan yaitu dengan
cara menghitung Nilai Pokok Penjualan secara langsung dengan metode yang
dipilih.
Kelebihan
: nilai persediaan dapat dikontrol
setiap hari, bisa melihat lap. R/L tanpa menunggu akhir periode.
Kekurangan
: menambah tenaga untuk mencatat mutasi barang masuk dan keluar.
b. Sistem Periodik
Dalam
sistem ini, Nilai persediaan tidak dicatat setiap hari bahkan praktis dalam 1
periode akuntansi (bulan/tahun) baru ditentukan berapa nilai persdiaan akhir
sesuai dngan (stok opname).
Pada saat ada transaksi pmbelian barang
tidak dicatat/dibukukan sebagai Nilai Persediaan, tetapi dicatat ke dalam akun
“Pembelian”, sehingga dalam pencatat laporan L/R nilai Pembelian tersebut
akan dicatat sebagai pengurang penjualan/pendapatan.
·
Perbedaan Jurnal pencatatan persediaan
barang dagangan dengan Sitem Perpetual dan Periodik.
|
Transaksi
|
Sistem Periodik
|
Sistem Perpetual
|
||
|
Pembelian
|
Pembelian
xxxx
|
Persediaan
xxxx
|
||
|
Kas
xxxx
|
Kas
xxxx
|
|||
|
Penjualan
|
Kas
xxxx
|
Kas
xxxx
|
||
|
Penjualan
xxxx
|
Penjualan
xxxx
|
|||
|
Penyesuaian
|
Persediaan Akir xxxx
|
Tidak Perlu di Jurnal
|
||
|
HPP
xxxx
|
||||
|
Persediaan
Awal xxxx
|
||||
|
Pembelian
xxxx
|
||||
C. Metode-metode dalam Pencatatan Penentuan
Persediaan Akhir
Metode
FIFO
Metode
LIFO
Metode
Rata-rata (Average)
1. Metode FIFO
Yaitu Metode penentuan persediaan yang
didasarkan pada anggapan bahwa barang yang paling dulu dibeli (masuk) adalah
yang paling dulu dijual (dikeluarkan).
Sisa persediaan
: dihitung berdasarkan harga barang yang dibeli terakhir.
2. Metode LIFO
Yaitu Metode penentuan persediaan yang
didasarkan pada anggapan bahwa barang yang dibeli paling dahulu, dianggap
dijual paling dahulu.
Sisa persediaan : dihitung berdasarkan harga barang
yang dibeli pertama.
3. Metode Average (Rata-rata)
Yaitu Metode penentuan persediaan
berdasarkan ketentuan dari Perhitungan
“ Harga Pokok Rata-Rata per unit
X Jumlah Unit Persediaan “.
Sisa persediaan : dihitung berdasarkan harga rata-rata
selama periode tertentu.
Sistem Periodik
a)
Metode Rata-rata Sederhana
b)
Metode Rata-Rata Tertimbang
Sistem Perpetual
c)
Metode Rata-Rata Bergerak
*********************000******************
CONTOH
SOAL
- Menggunakan Sistem Periodik
Prusahaan mencatat persediaan barang
dagang dengan Metode Periodik(Fisik). Berikut ini adalah data yang diperoleh
selama bulan April 2013 :
Tgl 1
April : Persediaan
Awal 200
unit
@ Rp. 900
Tgl 10 April :
Pembelian
300
unit
@ Rp. 1.000
Tgl 21 April :
Pembelian
400
unit
@ Rp. 1.100
Tgl 23 April :
Pembelian
100
unit
@ Rp. 1.200
Pada tanggal 30 April 2013 Persediaan
Akhir sebanyak 300 unit
Diminta :
Berapa nilai akhir 30 april 2013 ?
Berapa Nilai HPP sblum bulan maret 2013
?
JAWAB
1 April : Persdn
Awal 200
unit @
Rp. 900 = Rp. 180.000
10 April : Pembelian
300
unit @ Rp.
1.000 = Rp. 300.000
21 April :
Pembelian 400
unit @ Rp.
1.100 = Rp. 440.000
23 April :
Pembelian 100 unit
@ Rp. 1.200 = Rp. 120.000
Total
1.000 unit @ Rp. 4.200 = Rp.1.040.000
Persediaan yang terjual akhir periode =
1.000 unit - 300 unit = 700 unit
1.) Metode FIFO Periodik
Persediaan akhir :
|
300 unit
|
200 unit @ Rp. 1.100
= Rp. 220.000
|
|
100 unit @ Rp. 1.200
= Rp. 120.000
|
|
|
Nilai persediaan
akhir Rp. 340.00
|
HPP
= BTUD - Persediaan Akhir
= Rp. 1.040.000 - Rp. 340.000
= Rp. 700.000
2.) Metode LIFO Periodik
Persediaan akhir :
|
300 unit
|
100 unit @ Rp. 1.000
= Rp. 100.000
|
|
200 unit @
Rp. 900 = Rp. 180.000
|
|
|
Nilai persediaan
akhir Rp. 280.00
|
HPP
= BTUD - Persediaan Akhir
= Rp. 1.040.000 - Rp. 280.000
= Rp. 760.000
3.) Metode Average Periodik
Rata-Rata Tertimbang
Persediaan akhir =
= 300 X Rp.
1.040.000/1.000
=
300 X 1.040
Nilai Persediaan akhir
= Rp. 312.000
HPP = BTUD -
Persediaan Akhir
= Rp. 1.040.000 - Rp. 312.000
= Rp. 728.000
Rata-Rata Sederhana
Persediaan akhir =
300 unit X 4.200/4 = 300 X 1.050
Nilai Persediaan
akhir = Rp. 315.000
HPP = BTUD -
Persediaan Akhir
= Rp. 1.040.000 - Rp. 315.000
= Rp. 725.000
1. PD. Mekar Elektronik, pedagang radio kaset yang
memperdagangkan radio kaset merk sony, memiliki persediaan dan pembelian dalam
bulan Juni 2012 sbb :
01
juni Persediaan awal 20
buah @Rp. 185.000 = Rp.
3.700.000
04
juni
Pembelian
15 buah @Rp. 187.500 =
Rp. 2.812.500
05 juni
Pembelian
10 buah @Rp. 190.000 =
Rp. 1.900.000
16
juni
Pembelian
12 buah @Rp. 188.000 =
Rp. 2.256.000
25
juni
Pembelian
16 buah @Rp. 189.000
= Rp. 3.024.000
Total
73 buah Rp. 754.500 Rp.13.692.500
Pada perhitungan fisik per 30 juni 2012 terdapat 24
buah persediaan radio kaset, tiap radio kaset dijual dengan harga Rp. 305.000.
Hitunglah besarnya persediaan per 31 juni 2012, besarnya HPP, besarnya
Penjualan dan Laba Kotor dengan menggunakan :
a.
Metode FIFO
b.
Metode LIFO
c.
Metode Rata-rata
2. PD. Nusantara
selama bulan februari 2013 mempunyai catatan mengenai barang dagang sbb :
01 feb Persediaan
awal 3000 unit @Rp. 6.400
06 feb
Pembelian
2000 unit @Rp. 6.500
11 feb
Pembelian
4000 unit @Rp. 6.300
16 feb
Pembelian
5000 unit @Rp. 6.600
21 feb
Pembelian
2500 unit @Rp. 6.800
26 feb
Pembelian
4000 unit @Rp. 6.250
Berdasarkan inventarisasi secara fisik, persediaan
barang dagang pada tanggal 28 februari 2013 ada;lah sebanyak 7000 unit.
Hitunglah Nilai Persediaan barang dagang, Penjualan, HPP dan Laba Kotor pada
tanggal 28 februsari 2013 (Harga Jual per-unit Rp. 15.000), dengan menggunakan
metode :
a.
FIFO & LIFO
- Menggunakan Sistem Perpetual
Perusahaan mencatat persediaan barang
dagangan dengan Metode Perpetual. Berikut ini adalah data yang diperoleh selama
bulan Maret 2013 :
Tgl 3
Maret’13 :
Pembelian 4.000
unit @ Rp. 800
Tgl 10 Maret’13
: Pembelian 12.000
unit @ Rp. 880
Tgl 26 Maret’13
: Penjualan 8.000
unit @ Rp. 950
Tgl 29 Maret’13
: Pembelian 4.000
unit @ Rp. 830
Diminta :
Berapa Nilai Persediaan akhir 31 Maret
2013 ?
Berapa Nilai HPP sblum bulan maret 2013
?
Hitung Laba / Rugi Kotornya ?
JAWAB
1.) Metode FIFO Perpetual
KARTU
PERSEDIAAN BARANG
|
Tgl
|
Pembelian
|
HP. Penjualan
|
Persediaan
|
||||||
|
Mar
|
Unit
|
HP/ unit
|
Total
|
Unit
|
HP/unit
|
Total
|
Unit
|
HP/unit
|
Total
|
|
3
|
4000
|
800
|
3.200.000
|
4000
|
800
|
3.200.000
|
|||
|
10
|
12.000
|
880
|
10.560.000
|
4000
|
800
|
3.200.000
|
|||
|
12.000
|
880
|
10.560.000
|
|||||||
|
26
|
4000
|
800
|
3.200.000
|
||||||
|
4000
|
880
|
3.520.000
|
8000
|
880
|
7.040.000
|
||||
|
29
|
4000
|
830
|
3.320.000
|
8000
|
880
|
7.040.000
|
|||
|
4000
|
830
|
3.320.000
|
|||||||
Persediaan Akhir = Rp. 7.040.000 + Rp. 3.320.000
=
Rp. 10.360.000
HPP = Rp. 3.200.000 + Rp. 3.520.000
= Rp. 6.720.000
Laba/ Rugi Kotor :
Penjualan ( 8.000 X
950) = Rp. 7.600.000
HPP
= (Rp. 6.720.000)
Laba
kotor
= Rp. 8.800.000
2.) Metode LIFO Perpetual
KARTU
PERSEDIAAN BARANG
|
Tgl
|
Pembelian
|
HP. Penjualan
|
Persediaan
|
||||||
|
Mar
|
Unit
|
HP/ unit
|
Total
|
Unit
|
HP/unit
|
Total
|
Unit
|
HP/unit
|
Total
|
|
3
|
4000
|
800
|
3.200.000
|
4000
|
800
|
3.200.000
|
|||
|
10
|
12.000
|
880
|
10.560.000
|
4000
|
800
|
3.200.000
|
|||
|
12.000
|
880
|
10.560.000
|
|||||||
|
26
|
8000
|
880
|
7.040.000
|
4000
|
800
|
3.200.000
|
|||
|
4000
|
880
|
3.520.000
|
|||||||
|
29
|
4000
|
830
|
3.320.000
|
4000
|
800
|
3.200.000
|
|||
|
4000
|
880
|
3.520.000
|
|||||||
|
4000
|
830
|
3.320.000
|
|||||||
Persediaan Akhir = Rp. 3.200.00 + Rp. 3.520.000 + Rp.
3.250.000
=
Rp. 10.040.000
HPP = Rp. 7.040.000
Laba/ Rugi Kotor :
Penjualan ( 8.000 X
950) = Rp. 7.600.000
HPP
= (Rp. 7.040.000)
Laba
kotor
= Rp. 560.000
3.) Metode Rata-Rata Bergerak
KARTU
PERSEDIAAN BARANG
|
Tgl
|
Pembelian
|
HP. Penjualan
|
Persediaan
|
||||||
|
Mar
|
Unit
|
HP/ unit
|
Total
|
Unit
|
HP/unit
|
Total
|
Unit
|
HP/unit
|
Total
|
|
3
|
4000
|
800
|
3.200.000
|
4000
|
800
|
3.200.000
|
|||
|
10
|
12.000
|
880
|
10.560.000
|
12.000
|
880
|
10.560.000
|
|||
|
16.000
|
860
|
13.760.000
|
|||||||
|
26
|
8000
|
860
|
6.880.000
|
8000
|
860
|
6.880.000
|
|||
|
29
|
4000
|
830
|
3.320.000
|
4000
|
830
|
3.320.000
|
|||
|
12.000
|
850
|
10.200.000
|
|||||||
Persediaan Akhir = Rp. 10.200.000
HPP
= Rp. 6.880.000
Laba/ Rugi Kotor :
Penjualan ( 8.000 X
950) = Rp. 7.600.000
HPP
= (Rp. 6.880.000)
Laba
kotor
= Rp. 720.000
3. UD. Florest ELCO
menjual berbagai barang elektronik menggunakan sistem pencatatan persediaan
Perpetual. Dengan penilaian cara FIFO dari perusahaan itu diperoleh data
mengenai sejenis Pesawat TV untuk bulan Januari 2012 sbb :
01 Jan Persediaan
awal 200
satuan @Rp.200.000(Hrg Pokok)
10 Jan Pembelian
kredit 400 satuan
@Rp.220.000
15 Jan Retur
Pembelian 50 satuan dr Pembelian tgl 10 januari
20 Jan Penjualan
Kredit 450 satuan
@Rp. 400.000/satuan
25 Jan Retur
Penjualan 20 satuan dr Penjualan gl 20
januari
30 Jan Pembelian
Kredit 200 satuan @Rp. 240.000
Diminta :
a.
Mencatat data ke
dalam kartu persediaan bulan januari dengan Metode FIFO, LIFO dan Average ?
b.
Membuat ayat jurnal
umum yang diperlukan dari transaksi diatas?
c.
Menghitung Nilai
Persediaan, HPP dan Laba Kotor ?
4. PT. Prayoga Utama
melakukan transaksi-transaksi pada bulan januari 2013 sbb :
01 jan Persediaan
awal 10
unit
$20
04 jan
Penjualan
7
unit
10 jan
Pembelian
8 unit
$21
22 jan
Penjualan
4
unit
28 jan
Penjualan
2 unit
30 jan
Pembelian
10
unit
$22
Diminta:
a.
Hitunglah Nilai
Persediaan dengan kartu Persediaan (FIFO, LIFO dan Average
b.
Hitunglah HPP dan
Laba Kotor dengan ke-3 metode diatas
D. Penentuan Persediaan Barang Dagangan
Dengan Taksiran
Dalam keadaaan tertentu penilaian
persediaan dapat dilakukan dengan menggunakan Metode Penaksiran. Hal ini dapat
dilakukan karena adanya faktor-faktor tertentu sbb :
Jumlah fisik prsediaan tidak mungkin ditentukan,
karena gudang persediaan terbakar/musnah karena bencana.
Penentuan jumlah fisik persediaan yang ada digudang
akan memakan waktu lama/memakan biaya besar.
- Metode Penaksiran Persediaan dapat dibagi menjadi 2 macam :
1. Metode Laba Kotor
Berdasarkan Prosentase dari
Penjualan(Harga jual)
Cara menentukan nilai persediaan akhir
sbb :
a. Dihitung terlebih dahulu jumlah barang
tersedia untuk dijual dengan cara:
Persediaan
awal + Pembelian bersih tahun berjalan
b. Dihitung HP barang yang dijual dengan
cara :
Jumlah Penjualan – (Prosentase x Jumlah
Penjuala)
c. Dihitung Nilai persediaan akhir barang
dagang dengan cara :
BTUD – HP barang yang sudah terjual
2. Metode Eceran
Berdasarkan Hubungan HP. BTUD dengan
harga eceran barang yang sama.
Banyak digunakn oleh toserba dan swalayn
yng mempunyai prosedur penentuan nilai persediaan dengan metode eceran sbb :
a. Atas persediaan barang awal, selain
diketahui HP nya harus pula ditentukan berapa besar harga jual ecerannya.
b. Setiap terjadi pembelian harus
ditentukan Jumlah harga jualnya.
c. Dihitung barang tersedia dijual menurut
harga beli dan harga jual
d. Dihitung prosentase HP terhadap harga
jual dengan rumus :
HP.
BTUD = Harga jual BTUD x 100%
e. Prosentase HP terhadap harga jual tsb
akn digunakn untuk menaksir HP persediaan yang ada pada akhir peride.
- Contoh Soal :
a. Laba Kotor
Diketahui :
-
Penjualan
= Rp. 20.000.000
-
Persediaan
Awal
= Rp. 4.000.000
-
Pembelian
= Rp. 12.000.000
-
Laba
Kotor
30% dari Penjualan
Ditanya : berapa Taksiran Persediaan
akhirnya ?
Jawab :
-
Persediaan
awal
= Rp. 4.000.000
-
Pembelian
= Rp. 12.000.000
BTUD
= Rp. 16.000.000
-
Penjualan Bersih
= Rp. 20.000.000
-
Laba Kotor (20.000.000 x 30%
)
= (Rp. 6.000.000)
= (Rp. 14.000.000)
Taksiran Persediaan
Akhir
= Rp. 2.000.000
b. Metode Eceran
Diketahui :
-
Persediaan
Awal
= Rp. 14.000.000
-
Harga
Eceran
= Rp. 21.500.000
-
HP.
Pembelian
= Rp. 61.000.000
-
Harga
ecerannya
= Rp. 78.000.000
-
Harga Eceran Penjualan Bersih
= Rp. 70.000.000
Ditanya : Berapa Taksiran persediaan
akhirnya ?
Jawab :
Atas dasar HP
Atas Dasar Harga Eceran
Persediaan
awal
Rp.
14.000.000
Rp. 21.500.000
Pembelian
Rp. 61.000.000
Rp. 78.500.000
BTUD Rp. 75.000.000
Rp. 100.000.000
Penjualan
Bersih
(Rp. 70.000.000)
Persediaan Akhir (berdasarkan hrg
eceran)
Rp. 30.000.000
Perbandingan HP terhadap Harga
Eceran = 75%
= (75.000.000 : 100.000.000)
= 0.75 x 100
Taksiran Harga Perolehan Persediaan
Akhir
= 75% x Rp. 30.000.000
= Rp. 22.500.000
Tidak ada komentar:
Posting Komentar