Rabu, 14 Oktober 2015

Nita Hardianti ( 15.120.0024 ) Siklus Persediaan Barang dengan Metode FIFO, LIFO dan Average




SIKLUS PENGOLAHAN DATA YANG DIKEMBANGKAN



 

 



ORIGINATION          : proses dari pengumpulan data yang biasanya merupakan proses pencatatan (recording) data ke dokumen dasar.
INPUT                        : proses dari pengumpulan data yang biasanya merupakan proses pencatatan (recording) data ke dokumen dasar.
PROCESS                : proses pengolahan data yang sudah dimasukkan yang dilakukan oleh alat pemroses (processing device), berupa proses menghitung, membandingkan, mengklarifikasikan, mengurutkan, mengendalikan atau mencari di storage.
OUTPUT                   : proses menghasilkan keluaran / output dari hasil pengolahan data ke alat output (output device), yaitu berupa informasi.
DISTRIBUTION       : proses penyaluran hasil output (informasi) kepada pihak/ komponen yang membutuhkan informasi tsb.
STORAGE                : proses perekaman hasil pengolahan data. hasil pengolahan dapat disimpan di storage dan dapat diambil lagi untuk proses pengolahan data selanjut nya. 


SISTEM  PERSEDIAAN BARANG BERDASARKAN SIKLUS PENGOLAHAN DATA YANG DIKEMBANGLKAN

Keterangan gambar :
0.    Pada Sistem Persediaan barang dagang akan disusun dengan apa proses pencatatan barang dagangan, pembelian dan jenis persedian barang dagang yang masuk
1.    Pendataan suplier, dimana pembelian barang diinputkan ke dalam perusahaaan.
2.    Pengelolaan Barang, setelah data di inputkan ke dalam persediaan disitulah juga di susun sebuah laporan. Laporan ini berisi seluruh barang yang baru masuk dn stok persediaan yang masih tersisa. Dimana barang persediaan masuk dalam storage atau ruang penyimpanan kemudian dikelola yang mana yang akan dikeluarkan sebagi dengan sistem pencatatan yang telah disusun oleh perusahaan baik itu dengan metode FIFO, LIFO atau AVERAGE.
3.    Barang masuk, setelah pendataan dan pembuatan laporan selesai barulah perusahaaan memasarkan barang dagangan. Dan membuatnya dengan laporan.
4.    Barang keluar, sebagi output dari sistem barang persedian yang akan disajikan dalam bentuk laporan purcashing,accounting, dll.
Penerapan model sistem informasi perdagangan dengan FIFO :

Adapun masalah yang kendala  oleh perusahaan  adalah sebagai berikut:
1. Sistem informasi yang digunakan masih semi manual dalam pencatatan
pembelian dan persediaan barang.
Rekomendasi : Merancang sistem informasi akuntansi pembelian dan
   persediaan yang terkomputerisasi. Dengan pembuatan aplikasi
   akuntansi yang dapat mempermudah dan mempercepat
   perusahaan dalam melakukan proses transaksi.
2. Belum terdapatnya link yang menghubungkan data-data antar bagian purchasing, accounting dan warehouse.
Rekomendasi : Membuat aplikasi program yang saling terhubung. Dengan
terdapatnya link yang menghubungkan data-data antar bagian maka        
dapat mempercepat arus informasi pada perusahaan dan memudahkan dalam pencarian data. Selain juga dirancang suatu
kontrol untuk dapat melihat data-data tertentu sesuai dengan hak akses masing-masing bagian.
3. Adanya fungsi ganda pada bagian accounting, yaitu sebagai finance dan accounting.
Rekomendasi : Melakukan pemisahan fungsi finance dan accounting. Mengkaji
   ulang dan melakukan pemisahan fungsi, tugas dan wewenang
   dalam struktur organisasi dengan memisahkan bagian financial
   dan accounting. Hal ini dimaksudkan agar selalu terjadi pengecekan  
   internal (internal check) dalam pelaksanaan suatu transaksi,sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kecurangan.
4. Arus dokumen yang tidak efisien karena melibatkan banyak pihak.
Rekomendasi : Mengurangi keterlibatan beberapa pihak. Dengan melibatkan hanya
   pihak-pihak yang penting dan terpercaya dalam melakukan
   pengecekan dan penandatanganan pada dokumendokumen maka  
   akan mempercepat arus dokumen dalam perusahaan.
5. Kontrol terhadap software program kurang karena data hanya diketahui masingmasing bagian sehingga memungkinkan terjadinya kecurangan.
Rekomendasi : Meningkatkan kontrol terhadap software program. Dengan
   melakukan pembatasan di mana jika data tersebut tidak dapat diedit  
   lagi jika sudah tersimpan. Sehingga dapat menghasilkan laporan-
   laporan yang terjamin.

Tabel Analisis Kebutuhan Informasi Persediaan Barang

Informasi
Status
Keterangan
Ada
Tidak
Butuh
Belum
Nota Permohonan Pembelian dan
Penerimaan Barang


Surat Permintaan Penawaran Harga

 

Purchase Order


Nota Penerimaan Bahan dan Barang


Nota Penerimaan Produk


Nota Pengambilan Bahan dan Barang


Nota Pengambilan Produk


Bukti Kas Keluar


Surat Pemberitahuan Barang Rusak


Nota Retur Pembelian


Laporan Persediaan (Bahan, Barang)


Laporan Persediaan (Produk)


Laporan Pembelian


Laporan Penerimaan Bahan dan Barang


Laporan Penerimaan Produk


Laporan Pengambilan Bahan dan Barang


Laporan Pengambilan Produk


Laporan Pemberitahuan Barang Rusak


Laporan Retur Pembelian


Laporan Hutang


Laporan Pembayaran Pembelian


Laporan Kinerja Supplier






PERSEDIAAN BARANG DAGANGAN

A.     Pengertian Persediaan
Adalah Barang-barang yang dimiliki oleh perusahaan pada suatu saat tertentu, dengan maksud untuk dijual kembali baik scara langsung maupun melalui peroses produksi dalam siklus operasi normal.
Berdasarkan jenis usahanya, persediaan dapat di kelompokkan sbb :
1.       Persediaan yang dimiliki perusahaan dagang
Yaitu masuk ke dalam Persediaan Barang Dagang
2.       Persediaan yang dimiliki perusahaan industri
-          Persediaan Bahan Baku dan Pembantu BOP
-          Persediaan barang dalam proses
-          Persediaan barang jadi

B.     Penentuan Kuantitas Nilai Persediaan
Penentuan Kuantitas Nilai Persediaan mempunyai peranan penting dalam penyusunan laporan keuangan perusahaan. Prinsip-prinsip akuntansi menetapkan bahwa persediaan harus dicatat dan dilaporkan sebesar harga perolehannya. Hal tersebut berlaku baik bagi perusahaan yang menyelenggarakan  metode fisik maupun perpetual.
  • Di dalam akuntasi perusahaan dagang dikenal 2 macam sistem pencatatan persediaan yaitu :

a.    Sistem Perpetual
Dalam sistem ini, Nilai persediaan dicatat setiap hari pada saat terjadi pembelian maka akan dimasukkan ke dalam akun “Persediaan Barang”. Dan pada saat terjadi transaksi penjualan , maka akan mengurangi barang yang brsangkutan yaitu dengan cara menghitung Nilai Pokok Penjualan secara langsung dengan metode yang dipilih.
Kelebihan                   : nilai persediaan dapat dikontrol setiap hari, bisa melihat lap. R/L tanpa menunggu akhir periode.
Kekurangan                 : menambah tenaga untuk mencatat mutasi barang masuk dan keluar.

b.   Sistem Periodik
Dalam sistem ini, Nilai persediaan tidak dicatat setiap hari bahkan praktis dalam 1 periode akuntansi (bulan/tahun) baru ditentukan berapa nilai persdiaan akhir sesuai dngan (stok opname).
Pada saat ada transaksi pmbelian barang tidak dicatat/dibukukan sebagai Nilai Persediaan, tetapi dicatat ke dalam akun “Pembelian”, sehingga dalam pencatat laporan L/R  nilai Pembelian tersebut akan dicatat sebagai pengurang penjualan/pendapatan.
·         Perbedaan Jurnal pencatatan persediaan barang dagangan dengan Sitem Perpetual dan Periodik.

Transaksi
Sistem Periodik
Sistem Perpetual
Pembelian
Pembelian               xxxx
Persediaan          xxxx

Kas                            xxxx

Kas                          xxxx
Penjualan
Kas                           xxxx
Kas                        xxxx

Penjualan                  xxxx

Penjualan               xxxx
Penyesuaian
Persediaan Akir    xxxx
Tidak Perlu di Jurnal
HPP                        xxxx

Persediaan Awal      xxxx

Pembelian                 xxxx

C.   Metode-metode dalam Pencatatan Penentuan  Persediaan Akhir
Metode FIFO
Metode LIFO
Metode Rata-rata (Average)

1.      Metode FIFO
Yaitu Metode penentuan persediaan yang didasarkan pada anggapan bahwa barang yang paling dulu dibeli (masuk) adalah yang paling dulu dijual (dikeluarkan).
Sisa persediaan                 : dihitung berdasarkan harga barang yang dibeli terakhir.
2.      Metode LIFO
Yaitu Metode penentuan persediaan yang didasarkan pada anggapan bahwa barang yang dibeli paling dahulu, dianggap dijual paling dahulu.
Sisa persediaan : dihitung berdasarkan harga barang yang dibeli pertama.
3.      Metode Average (Rata-rata)
Yaitu Metode penentuan persediaan berdasarkan ketentuan dari Perhitungan  
“ Harga Pokok Rata-Rata per unit  X  Jumlah Unit Persediaan “.
Sisa persediaan : dihitung berdasarkan harga rata-rata selama periode tertentu.
      Sistem Periodik
a)        Metode Rata-rata Sederhana
b)        Metode Rata-Rata Tertimbang
      Sistem Perpetual
c)        Metode Rata-Rata Bergerak




                                                *********************000******************

CONTOH SOAL

  • Menggunakan Sistem Periodik
Prusahaan mencatat persediaan barang dagang dengan Metode Periodik(Fisik). Berikut ini adalah data yang diperoleh selama bulan April 2013 :
Tgl 1 April       : Persediaan Awal     200 unit               @ Rp.    900
Tgl 10 April    : Pembelian                  300 unit               @ Rp. 1.000
Tgl 21 April    : Pembelian                  400 unit               @ Rp. 1.100
Tgl 23 April    : Pembelian                  100 unit               @ Rp. 1.200
Pada tanggal 30 April 2013 Persediaan Akhir sebanyak 300 unit
Diminta :
Berapa nilai akhir 30 april 2013 ?
Berapa Nilai HPP sblum bulan maret 2013 ?
JAWAB

1 April     : Persdn Awal      200 unit           @ Rp.    900       = Rp. 180.000
10 April  : Pembelian          300 unit           @ Rp. 1.000       = Rp. 300.000
21 April  : Pembelian          400 unit           @ Rp. 1.100       = Rp. 440.000
23 April  : Pembelian          100 unit           @ Rp. 1.200       = Rp. 120.000
                   Total                      1.000 unit    @ Rp. 4.200    = Rp.1.040.000 

Persediaan yang terjual akhir periode = 1.000 unit  -  300 unit  = 700 unit

1.)      Metode FIFO Periodik
Persediaan akhir :
300 unit
200 unit  @ Rp. 1.100   =    Rp. 220.000
100 unit   @ Rp. 1.200  =    Rp. 120.000
Nilai persediaan akhir      Rp. 340.00

HPP       = BTUD  - Persediaan Akhir
                = Rp. 1.040.000  -  Rp. 340.000
                = Rp. 700.000
                                         
2.)      Metode LIFO Periodik
Persediaan akhir :
300 unit
100 unit  @ Rp. 1.000   =   Rp. 100.000
200 unit   @ Rp.    900  =    Rp. 180.000
Nilai persediaan akhir      Rp. 280.00
HPP       = BTUD  - Persediaan Akhir
                = Rp. 1.040.000  -  Rp. 280.000
                = Rp. 760.000

3.)      Metode Average Periodik
  Rata-Rata Tertimbang
Persediaan akhir =
    = 300  X Rp. 1.040.000/1.000
                                        = 300  X  1.040
Nilai  Persediaan akhir   = Rp. 312.000

HPP    = BTUD  - Persediaan Akhir
                       = Rp. 1.040.000  -  Rp. 312.000
                       = Rp. 728.000

  Rata-Rata Sederhana
Persediaan akhir =
300 unit  X 4.200/4      = 300  X  1.050
Nilai  Persediaan akhir       = Rp. 315.000

HPP    = BTUD  - Persediaan Akhir
             = Rp. 1.040.000  -  Rp. 315.000
             = Rp. 725.000


1.    PD. Mekar Elektronik, pedagang radio kaset yang memperdagangkan radio kaset merk sony, memiliki persediaan dan pembelian dalam bulan Juni 2012 sbb :
01 juni     Persediaan awal    20 buah     @Rp. 185.000      = Rp. 3.700.000
04 juni     Pembelian               15 buah     @Rp. 187.500      = Rp. 2.812.500
05 juni     Pembelian               10 buah     @Rp. 190.000      = Rp. 1.900.000
16 juni     Pembelian               12 buah     @Rp. 188.000      = Rp. 2.256.000
25 juni     Pembelian               16 buah     @Rp. 189.000      = Rp. 3.024.000
                   Total                         73 buah       Rp. 754.500   Rp.13.692.500

Pada perhitungan fisik per 30 juni 2012 terdapat 24 buah persediaan radio kaset, tiap radio kaset dijual dengan harga Rp. 305.000. Hitunglah besarnya persediaan per 31 juni 2012, besarnya HPP, besarnya Penjualan dan Laba Kotor dengan menggunakan :
a.       Metode FIFO
b.       Metode LIFO
c.       Metode Rata-rata

2.    PD. Nusantara selama bulan februari 2013 mempunyai catatan mengenai barang dagang sbb :
01 feb      Persediaan awal    3000 unit     @Rp. 6.400
06 feb      Pembelian               2000 unit     @Rp. 6.500
11 feb      Pembelian               4000 unit     @Rp. 6.300
16 feb      Pembelian               5000 unit     @Rp. 6.600
21 feb      Pembelian               2500 unit     @Rp. 6.800
26 feb      Pembelian               4000 unit     @Rp. 6.250

Berdasarkan inventarisasi secara fisik, persediaan barang dagang pada tanggal 28 februari 2013 ada;lah sebanyak  7000 unit. Hitunglah Nilai Persediaan barang dagang, Penjualan, HPP dan Laba Kotor pada tanggal 28 februsari 2013 (Harga Jual per-unit Rp. 15.000), dengan menggunakan metode :

a.      FIFO & LIFO
  • Menggunakan Sistem Perpetual
Perusahaan mencatat persediaan barang dagangan dengan Metode Perpetual. Berikut ini adalah data yang diperoleh selama bulan Maret 2013 :
Tgl 3 Maret’13        : Pembelian          4.000 unit        @ Rp. 800
Tgl 10 Maret’13     : Pembelian        12.000 unit        @ Rp. 880
Tgl 26 Maret’13     : Penjualan            8.000 unit       @ Rp. 950
Tgl 29 Maret’13     : Pembelian          4.000 unit        @ Rp. 830
Diminta :
Berapa Nilai Persediaan akhir 31 Maret 2013 ?
Berapa Nilai HPP sblum bulan maret 2013 ?
Hitung Laba / Rugi Kotornya ?
JAWAB
1.)      Metode FIFO Perpetual

KARTU PERSEDIAAN BARANG
Tgl
Pembelian
HP. Penjualan
Persediaan
Mar
Unit
HP/  unit
Total
Unit
HP/unit
Total
Unit
HP/unit
Total
3
4000
800
3.200.000



4000
800
3.200.000
10
12.000
880
10.560.000



4000
800
3.200.000







12.000
880
10.560.000
26



4000
800
3.200.000







4000
880
3.520.000
8000
880
7.040.000
29
4000
830
3.320.000



8000
880
7.040.000







4000
830
3.320.000

         Persediaan Akhir  = Rp. 7.040.000 + Rp. 3.320.000
                                          = Rp. 10.360.000

         HPP = Rp. 3.200.000 + Rp. 3.520.000
= Rp. 6.720.000

         Laba/ Rugi Kotor :
Penjualan ( 8.000 X 950)       =   Rp. 7.600.000
HPP                                           = (Rp. 6.720.000)
          Laba kotor                    =  Rp.  8.800.000

2.)      Metode LIFO Perpetual

KARTU PERSEDIAAN BARANG
Tgl
Pembelian
HP. Penjualan
Persediaan
Mar
Unit
HP/  unit
Total
Unit
HP/unit
Total
Unit
HP/unit
Total
3
4000
800
3.200.000



4000
800
3.200.000
10
12.000
880
10.560.000



4000
800
3.200.000







12.000
880
10.560.000
26



8000
880
7.040.000
4000
800
3.200.000







4000
880
3.520.000
29
4000
830
3.320.000



4000
800
3.200.000







4000
880
3.520.000







4000
830
3.320.000

         Persediaan Akhir  = Rp. 3.200.00 + Rp. 3.520.000 + Rp. 3.250.000
                                          = Rp. 10.040.000

         HPP = Rp. 7.040.000
         Laba/ Rugi Kotor :
Penjualan ( 8.000 X 950)       =   Rp. 7.600.000
HPP                                           = (Rp. 7.040.000)
          Laba kotor                    =  Rp.  560.000

3.)      Metode Rata-Rata Bergerak

KARTU PERSEDIAAN BARANG
Tgl
Pembelian
HP. Penjualan
Persediaan
Mar
Unit
HP/  unit
Total
Unit
HP/unit
Total
Unit
HP/unit
Total
3
4000
800
3.200.000



4000
800
3.200.000
10
12.000
880
10.560.000



12.000
880
10.560.000







16.000
860
13.760.000
26



8000
860
6.880.000
8000
860
6.880.000
29
4000
830
3.320.000



4000
830
3.320.000







12.000
850
10.200.000

         Persediaan Akhir  = Rp. 10.200.000

         HPP                                 = Rp.     6.880.000
         Laba/ Rugi Kotor :
Penjualan ( 8.000 X 950)       =   Rp. 7.600.000
HPP                                           = (Rp. 6.880.000)
          Laba kotor                    =  Rp.  720.000
3.    UD. Florest ELCO menjual berbagai barang elektronik menggunakan sistem pencatatan persediaan Perpetual. Dengan penilaian cara FIFO dari perusahaan itu diperoleh data mengenai sejenis Pesawat TV untuk bulan Januari 2012 sbb :
01 Jan      Persediaan awal       200 satuan      @Rp.200.000(Hrg Pokok)
10 Jan      Pembelian kredit     400 satuan      @Rp.220.000
15 Jan      Retur Pembelian      50 satuan dr Pembelian tgl 10 januari
20 Jan      Penjualan Kredit      450 satuan      @Rp. 400.000/satuan
25 Jan      Retur Penjualan       20 satuan dr Penjualan gl 20 januari
30 Jan      Pembelian Kredit    200 satuan      @Rp. 240.000
Diminta :
a.       Mencatat data ke dalam kartu persediaan bulan januari dengan Metode FIFO, LIFO dan Average ?
b.       Membuat ayat jurnal umum yang diperlukan dari transaksi diatas?
c.       Menghitung Nilai Persediaan, HPP dan Laba Kotor ?

4.    PT. Prayoga Utama melakukan transaksi-transaksi pada bulan januari 2013 sbb :
01 jan      Persediaan awal       10 unit              $20
04 jan      Penjualan                    7 unit                
10 jan      Pembelian                  8 unit                 $21
22 jan      Penjualan                    4 unit                
28 jan      Penjualan                    2 unit
30 jan      Pembelian                  10 unit              $22
Diminta:
a.       Hitunglah Nilai Persediaan dengan kartu Persediaan (FIFO, LIFO dan Average
b.       Hitunglah HPP dan Laba Kotor dengan ke-3 metode diatas

D.     Penentuan Persediaan Barang Dagangan Dengan Taksiran
Dalam keadaaan tertentu penilaian persediaan dapat dilakukan dengan menggunakan Metode Penaksiran. Hal ini dapat dilakukan karena adanya faktor-faktor tertentu sbb :
  Jumlah fisik prsediaan tidak mungkin ditentukan, karena gudang persediaan terbakar/musnah karena bencana.
  Penentuan jumlah fisik persediaan yang ada digudang akan memakan waktu lama/memakan biaya besar.

  • Metode Penaksiran Persediaan dapat dibagi menjadi 2 macam :
1.       Metode Laba Kotor
Berdasarkan Prosentase dari Penjualan(Harga jual)
Cara menentukan nilai persediaan akhir sbb :
a.       Dihitung terlebih dahulu jumlah barang tersedia untuk dijual dengan cara:
Persediaan awal + Pembelian bersih tahun berjalan
b.       Dihitung HP barang yang dijual dengan cara :
Jumlah Penjualan – (Prosentase x Jumlah Penjuala)
c.       Dihitung Nilai persediaan akhir barang dagang dengan cara :
BTUD – HP barang yang sudah terjual

2.       Metode Eceran
Berdasarkan Hubungan HP. BTUD dengan harga eceran barang yang sama.
Banyak digunakn oleh toserba dan swalayn yng mempunyai prosedur penentuan nilai persediaan dengan metode eceran sbb :
a.       Atas persediaan barang awal, selain diketahui HP nya harus pula ditentukan berapa besar harga jual ecerannya.
b.       Setiap terjadi pembelian harus ditentukan Jumlah harga jualnya.
c.       Dihitung barang tersedia dijual menurut harga beli dan harga jual
d.       Dihitung prosentase HP terhadap harga jual dengan rumus :
HP. BTUD = Harga jual BTUD x 100%
e.       Prosentase HP terhadap harga jual tsb akn digunakn untuk menaksir HP persediaan yang ada pada akhir peride.

  •  Contoh Soal :
a.      Laba Kotor
Diketahui :
-          Penjualan                          = Rp. 20.000.000
-          Persediaan Awal              = Rp.    4.000.000
-          Pembelian                         = Rp. 12.000.000
-          Laba Kotor                     30% dari Penjualan
Ditanya : berapa Taksiran Persediaan akhirnya ?

Jawab :
-          Persediaan awal                                             = Rp.   4.000.000
-          Pembelian                                                       = Rp. 12.000.000
BTUD                                                                                  = Rp. 16.000.000

-          Penjualan Bersih                                            = Rp. 20.000.000
-          Laba Kotor (20.000.000 x 30% )                 = (Rp.  6.000.000)
                    = (Rp. 14.000.000)
Taksiran Persediaan Akhir                                           = Rp.  2.000.000


b.      Metode Eceran
Diketahui :
-          Persediaan Awal              = Rp. 14.000.000
-          Harga Eceran                    = Rp. 21.500.000
-          HP. Pembelian                  = Rp. 61.000.000
-          Harga ecerannya             = Rp. 78.000.000
-          Harga Eceran Penjualan Bersih                = Rp. 70.000.000
Ditanya : Berapa Taksiran persediaan akhirnya ?

Jawab : 
                                             Atas dasar HP            Atas Dasar Harga Eceran
Persediaan awal                 Rp. 14.000.000                          Rp. 21.500.000
Pembelian                           Rp. 61.000.000                          Rp. 78.500.000
                        BTUD           Rp. 75.000.000                        Rp. 100.000.000
Penjualan Bersih                                                                  (Rp.  70.000.000)
Persediaan Akhir (berdasarkan hrg eceran)                  Rp.  30.000.000

         Perbandingan HP terhadap Harga Eceran        = 75%
= (75.000.000 : 100.000.000)
= 0.75 x 100
         Taksiran Harga Perolehan Persediaan Akhir
= 75% x Rp. 30.000.000
= Rp. 22.500.000

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar