Nama : M
Syaiful Hidayat
NIM :
15.120.0026
Kelas : 1M21
Metode Persediaan
1. Sistem Periodik
Dalam
pencatatan sistem fisik, nilai persediaan barang akhir periode diketahui
setelah kuantitas barang yang tersedia dihitung secara fisik kemudian dikalikan
dengan harga satuan. Harga satuan barang yang digunakan sebagai dasar penilaian
persediaan bergantung kepada metode penilaian yang digunakan. Metode yang
digunakan dalam sistem periodik antara lain:
a. Metode tanda pengenalan khusus
Metode
ini biasanya digunakan untuk perusahaan yang spesifik dan spesial yang menjual
jenis barang sedikit dan harga mahal (Berlian, Mobil termewah). Setiap barang
yang masuk diberi tanda pengenal khusus yang menunjukkan harga satuan sesuai dengan
faktur pembelian yang diterima.
Contoh:
Terdapat persediaan akhir barang AB sebanyak 7500 kg yang terdiri atas 75
karung @ 100kg. Tanda pengenal khusus:
40 Karung tanda pengenal khusus Rp 2.800.000
30 Karung tanda pengenal khusus Rp 2.600.000
5 Karung tanda pengenal khusus Rp 2.400.0000
40 x Rp 2.800.000 =
Rp 112.000.000
30 x Rp 2.600.000 =
Rp 78.000.000
5 x Rp 2.400.000 =
Rp 12.000.000
Total persediaan akhir Rp
202.000.000
b. Metode Rata-Rata
Cara
penghitungan metode ini adalah dengan menghitung rata-rata dari harga beli
dengan jumlah yang dibeli selama periode tertentu.
Contoh:
Selama
suatu periode PT. X membeli barang dagang Rp 98.000.000 sebanyak 40.000 unit.
Pada akhir periode, sisa barang dagang tersebut sebanyak 7.500 unit.
Harga rata-rata =
=
Rp 2.460
Sehingga, nilai
persediaan pada akhir periode yaitu 7.500 unit x Rp 2.460
Yaitu Rp 18.450.000
c. Metode
FIFO
Menurut metode FIFO (First In Frist Out) atau MPKP (Masuk Pertama Keluar Pertama),
barang yang lebih dulu masuk dianggap barang yang lebih dulu keluar. Tetapi hal
ini tidak pada keadaan sebenarnya, anggapan tersebut hanya digunakan untuk
perhitungan (penggunaan bukti transaksi). Ketika masuk pertama keluar pertama,
berati dapat disimpulkan bahwa persediaan
akhir terdiri dari pembelian pada saat-saat terakhir.
Contoh: pembelian
selama bulan maret
Maret 1 Persediaan 6000 unit @ 2000 = Rp 12.000.000,-
5 pembelian 6000 unit @ 2200 = Rp 13.200.000,-
10 pembelian 5000 unit @ 2400 = Rp 12.000.000,-
15 pembelian 8000 unit @ 2600 = Rp 20.800.000,-
20 pembelian 4000 unit @ 2700 = Rp 10.800.000,-
26 pembelian 6000 unit @ 2600 = Rp 15.600.000,-
30 pembelian 5000 unit @2.800 = Rp 14.000.000,-
Barang yang tersedia
dijual bulan maret 40.000
unit Rp 98.400.000,-
Dari data tersebut diketahui persediaan
akhir digudang sebanyak 7.500 unit.
Sehingga perhitungan menggunakan FIFO:
Maret 30 5000 x 2.800 = Rp 14.000.000,-
26 2.500 x 2.600 = Rp 6.500.000,-
Total
Rp
20.500.000,-
d. Metode
LIFO
Menurut metode LIFO (Last In First Out) atau MTKP (Masuk Terakhir Keluar Pertama),
barang yang terakhir masuk dianggap barang yang lebih dulu keluar. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa nilai persediaan
akhir merupakan nilai pada pembelian awal.
Contoh (Menggunakan
data FIFO)
Persediaan akhir
menurut metode LIFO dihitung:
Maret 1 6000
x 2.000 = Rp 12.000.000,-
5 1500
x 2.200 = Rp 3.300.000,-
Total Rp 15.300.000,-
e. Metode
Persediaan Dasar
Adakalanya perusahaan menetapkan jumlah
minimum persediaan yang harus ada setiap saat, baik mengenai kuantitas maupun
harga satuan, atau sering disebut dengan persediaan dasar (Basic Stock). Menurut metode ini, nilai persediaan barang akhir
periode dihitung :
i.
Apabila kuantitas lebih banyak dari
kuantitas sediaan dasar, nilai persediaan adalah nilai dasar ditambah dengan
harga pasar kelebihannya.
ii.
Apabila kuantitas lebih rendah dari
kuantitas sediaan dasar, nilai persediaan adalah nilai dasar dikurangi dengan
harga pasar kekurangannya.
Contoh:
Persediaan dasar barang ABC ditentukan
sebanya 6.000 kg dengan harga Rp 2.200,00 tiap kg. Harga pasar barang pada saat perhitungan
adalah Rp 2.800,00Persediaan pada 31 Mei sebanyak 7.500 kg dinilai :
Sediaan dasar 6000 x 2.200 13.200.000
Ditambah kelebihannya
1500 x 2.800 4.200.000
Jumlah 17.400.000
Sistem Perpetual
Dalam sistem perpetual
ini berbeda dengan sistem periodik. Pencatatan persediaan pada sistem ini
dilakukan setiap terjadi transaksi, jadi penilaian persediaan pada sistem ini
bukan mencari persediaan akhir seperti halnya sistem periodik. Dalam hal sistem
perpetual penilaian ini digunakan untuk mencari total persediaan yang keluar
sesuai harga beli atau disebut dengan harga pokok penjualan. Biasanya untuk
memudahkan, perhitungan HPP ini dilakukan dengan pembuatan Kartu Persediaan.
Contoh :
Mei 1
Persediaan 120 unit @ 54.000 = Rp 6.480.000,-
5 Pembelian 180 unit @ 60.000 =
Rp 10.800.000,-
10 Penjualan 200 unit
16 pembelian 200 unit @ 63.000 =
Rp 12.600.000,-
20
Pembelian 120 unit @ 64.000 =
Rp 7.680.000,-
26
Penjualan 280 unit
a. Metode
FIFO
Menurut metode ini harga pokok barang
yang dijual dihitung dengan anggapan bahwa barang yang pertama kali masuk
dijual terlebih dulu. kekurangan diambil dari barang masuk berikutnya, begitu
seterusnya.
Sehingga menurut metode FIFO harga pokok
penjualan yaitu:
·
Mei 10 Penjualan 200 unit
Dihitung dari :
Mei 1
120 x 54.000 = 6.480.000
5 80 x 60.000 = 4.800.000
Jumlah Rp 11.280.000
·
Mei 26 Penjualan
280
Dihitung dari:
Mei 5
100 x 60.000 = 6.000.000
16 180 x 63.000 = 11.340.000
Jumlah Rp 17.340.000
Sehingga HPP selama bulan Mei 2004
menurut metode FIFO:
HPP Mei
10 Rp 11.280.000
HPP Mei
26 Rp 17.340.000
Total HPP Rp 28.620.000
Perhitungan Persediaan metode FIFO menggunakan Kartu Persediaan
|
PT.
ABC
|
||||||||||
|
KARTU PERSEDIAAN
|
Jenis
Barang : XX
Satuan : Unit
Metode : FIFO
|
|||||||||
|
Masuk
|
Keluar
|
Saldo
|
||||||||
|
Tgl
|
No. Bkt
|
Unit
|
HP (Rp)
|
Jumlah
|
Unit
|
HP (Rp)
|
Jumlah
|
Unit
|
HP (Rp)
|
Jumlah
|
|
2004
|
||||||||||
|
Mei.1
|
Sld
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
120
|
54.000
|
6.480.000
|
|
5
|
180
|
60.000
|
10.800.000
|
-
|
-
|
-
|
120
|
54.000
|
6480.000
|
|
|
180
|
60.000
|
10.800.000
|
||||||||
|
10
|
-
|
-
|
-
|
120
|
54.000
|
6.480.000
|
||||
|
-
|
-
|
-
|
80
|
60.000
|
4.800.000
|
100
|
60.000
|
6.000.000
|
||
|
16
|
200
|
63.000
|
12.600.000
|
-
|
-
|
-
|
100
|
60.000
|
6.000.000
|
|
|
200
|
63.000
|
12.600.000
|
||||||||
|
20
|
120
|
64.000
|
7.680.000
|
-
|
-
|
-
|
100
|
60.000
|
6.000.000
|
|
|
200
|
63.000
|
12.600.000
|
||||||||
|
120
|
64.000
|
7.680.000
|
||||||||
|
26
|
-
|
-
|
-
|
100
|
60.000
|
6.000.000
|
20
|
63.000
|
1.260.000
|
|
|
180
|
63.000
|
11.340.000
|
120
|
64.000
|
7.680.000
|
|||||
|
31
|
Sld
|
500
|
-
|
31.080.000
|
480
|
-
|
28.620.000
|
140
|
-
|
8.940.000
|
Dari data di atas dapat kita ambil
kesimpulan bahwa:
Persediaan awal periode 120 unit Rp
6.480.000,00
Total Pembelian selama bulan mei 500 unit Rp
31.080.000,00
Total Barang Tersedia untuk dijual 620 unit Rp 37.560.000,00
Total HPP selama bulan mei (480 unit) (Rp 28.620.000,00)
Saldo Persediaan akhir periode 140 unit Rp 8.940.000,00
b. Metode
LIFO
Menurut metode LIFO (MTKP), harga pokok
barang yang dijual dihitung dengan anggapan bahwa barang yang terakhir masuk
adalah barang yang dijual lebih dulu. kekurangannya diambil dari barang yang
masuk sebelumnya, begitu seterusnya. Sehingga dari contoh diatas, dapat kita
hitung HPP menurut metode LIFO :
Mei 10 Penjualan 200 unit
Dihitung dari :
Mei 5
180 x 60.000 = 10.800.000
1 20 x 54.000 = 1.080.000
Jumlah
Rp 11.880.000
Mei 26
Penjualan 280
Dihitung dari:
Mei 20
120 x 64.000 = 7.680.000
16 160 x 63.000 = 10.080.000
Jumlah 17.760.000
Sehingga HPP selama bulan Mei 2004
menurut metode FIFO:
HPP Mei
10 Rp 11.880.000
HPP Mei
26 Rp 17.760.000
Total HPP 29.640.000
Perhitungan
Persediaan metode FIFO menggunakan Kartu
Persediaan
|
PT.
ABC
|
||||||||||
|
KARTU PERSEDIAAN
|
Jenis
Barang : XX
Satuan : Unit
Metode : LIFO
|
|||||||||
|
Masuk
|
Keluar
|
Saldo
|
||||||||
|
Tgl
|
No. Bkt
|
Unit
|
HP (Rp)
|
Jumlah
|
Unit
|
HP (Rp)
|
Jumlah
|
Unit
|
HP (Rp)
|
Jumlah
|
|
2004
|
||||||||||
|
Mei.1
|
Sld
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
120
|
54.000
|
6.480.000
|
|
5
|
180
|
60.000
|
10.800.000
|
-
|
-
|
-
|
120
|
54.000
|
6480.000
|
|
|
180
|
60.000
|
10.800.000
|
||||||||
|
10
|
-
|
-
|
-
|
180
|
60.000
|
10.840.000
|
||||
|
-
|
-
|
-
|
20
|
54.000
|
1.080.000
|
100
|
54.000
|
5.400.000
|
||
|
16
|
200
|
63.000
|
12.600.000
|
-
|
-
|
-
|
100
|
54.000
|
5.400.000
|
|
|
200
|
63.000
|
12.600.000
|
||||||||
|
20
|
120
|
64.000
|
7.680.000
|
-
|
-
|
-
|
100
|
54.000
|
5.400.000
|
|
|
200
|
63.000
|
12.600.000
|
||||||||
|
120
|
64.000
|
7.680.000
|
||||||||
|
26
|
-
|
-
|
-
|
120
|
64.000
|
7.680.000
|
100
|
54.000
|
5.400.000
|
|
|
160
|
63.000
|
10.080.000
|
40
|
63.000
|
2.520.000
|
|||||
|
31
|
Sld
|
500
|
-
|
31.080.000
|
480
|
-
|
29.640.000
|
140
|
-
|
7.920.000
|
Dari data di atas dapat kita ambil
kesimpulan bahwa:
Persediaan awal periode 120 unit Rp
6.480.000,00
Total Pembelian selama bulan mei 500 unit Rp
31.080.000,00
Total Barang Tersedia untuk dijual 620 unit Rp 37.560.000,00
Total HPP selama bulan mei (480 unit) (Rp 29.640.000,00)
Saldo Persediaan akhir periode 140 unit Rp 7.920.000,00
c. Metode
Rata-Rata
Penerapan metode rata-rata dalam sistem
pencatatan perpetual, disebut metode rata-rata bergerak (Moving Average Method). Disebut demikian, karena tiap terjadi
transaksi pembelian, harga rata-rata per satuan barang harus dihitung, sehingga
rata-rata per satuan akan berubah-ubah. Harga pokok satuan barang yang dijual
adalah harga pokok rata-rata yang berlaku pada saat terjadi transaksi
penjualan.
Sehingga menurut metode FIFO harga pokok
penjualan yaitu:
·
Mei 10 Penjualan 200 unit
Dihitung dengan mencari harga pokok
rata-rata terlebih dahulu:
Sediaan 1
Mei 120 x 54.000 = 6.480.000
Pembelian 5
Mei 180 x 60.000 = 10.800.000
Jumlah
300
unit 17.280.000
HP rata-rata/unit =
= Rp 57.600
Jadi, Penjualan 200 unit adalah 200 x
57.600 = Rp 11.520.000
·
HP Rata-rata 16 Mei menjadi:
= Rp 61.200
Begitu selanjutnya, perhitungan HP
rata-rata dilakukan setiap terjadi pembelian.
Perhitungan Persediaan metode rata-rata (Average)
menggunakan Kartu Persediaan
|
PT.
ABC
|
||||||||||
|
KARTU PERSEDIAAN
|
Jenis
Barang : XX
Satuan : Unit
Metode : Average
|
|||||||||
|
Masuk
|
Keluar
|
Saldo
|
||||||||
|
Tgl
|
No. Bkt
|
Unit
|
HP (Rp)
|
Jumlah
|
Unit
|
HP (Rp)
|
Jumlah
|
Unit
|
HP (Rp)
|
Jumlah
|
|
2004
|
||||||||||
|
Mei.1
|
Sld
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
120
|
54.000
|
6.480.000
|
|
5
|
180
|
60.000
|
10.800.000
|
-
|
-
|
-
|
300
|
57.600
|
17.280.000
|
|
|
10
|
-
|
-
|
-
|
200
|
57.600
|
11.520.000
|
100
|
57.600
|
5.760.000
|
|
|
16
|
200
|
63.000
|
12.600.000
|
-
|
-
|
-
|
300
|
61.200
|
18.360.000
|
|
|
20
|
120
|
64.000
|
7.680.000
|
-
|
-
|
-
|
420
|
62.000
|
26.040.000
|
|
|
26
|
-
|
-
|
-
|
280
|
62.00
|
17.360.000
|
140
|
62.000
|
8.680.000
|
|
|
31
|
sld
|
500
|
-
|
31.080.000
|
480
|
-
|
28.880.000
|
140
|
62.000
|
8.680.000
|
Dari data di atas dapat kita ambil
kesimpulan bahwa:
Persediaan awal periode 120 unit Rp
6.480.000,00
Total Pembelian selama bulan mei 500 unit Rp
31.080.000,00
Total Barang Tersedia untuk dijual 620 unit Rp 37.560.000,00
Total HPP selama bulan mei (480 unit) (Rp 28.880.000,00)
Saldo Persediaan akhir periode 140 unit Rp 8.680.000,00

Tidak ada komentar:
Posting Komentar