SISTEM PERSEDIAAN BARANG DENGAN FIFO, LIFO, DAN AVERAGE
Metode LIFO (last in First Out)
1. Sistem Periodik
Adalah
penilaian persediaan yang ditentukan dengan cara saldo periodic yang ada
dikalikan harga pokok per unit barang yang masuk pada awal periode. Bila saldo
periodic terlalu besar dari barang yang masuk pada awal periode, diambilkan
dari harga pokok per unit yang masuk berikutnya.
2. Sistem Perpetual
Adalah suatu
metode penilaian persediaan yang pencatatan persediaannya dilakukan secara
terus-menerus dalam kartu persediaan.
HPP dicatat
berdasarkan harga pokok pertama kali masuk. Jumlah yang masih tersisa merupakan
nilai persediaan akhir. Dalam periode inflasi metode LIFO akan menghasilkan
kemungkinan laba bersih terendah. Alasannya karena harga pokok barang yang
diperoleh terakhir akan mendekati nilai ganti barang yang dijual.
Keuntungan lain
adalah penghematan pajak karena laba yang dihasilkan adalah yang paling rendah
sehingga akan menghasilkan pajak penghasilan yang lebih rendah.
Bila
dibandingkan dengan metode FIFO ataupun metode rata-rata dalam periode deflasi,
pengaruh yang terjadi adalah kebalikannya.
c. Metode FIFO
Ikatan Akuntan
Indonesia (2007 : 14.21) merumuskan FIFO sebagai berikut, “formula MPKP / FIFO
mengasumsikan barang dalam persediaan yang pertama dibeli akan dijual atau
digunakan terlebih dahulu sehingga yang tertinggal dalam persediaan akhir
adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian”.
1. Sistem Periodik
Persediaan akhir
ditentukan dengan cara saldo periodic yang ada dikalikan dengan harga pokok per
unit barang yang terakhir kali masuk. Bila saldo periodic ternyata lebih besar
dari jumlah unit terakhir masuk, sisanya dipergunakan harga pokok per unit yang
masuk sebelumnya.
2. Sistem Perpetual
Suatu metode
penilaian persediaan yang pencatatan persediaannya dilakukan terus-menerus
dalam kartu persediaan.
HPP dicatat
berdasarkan harga pokok barang pertama masuk. Jumlah yang masih tersisa
merupakan nilai persediaan akhir . Selama periode inflasi penggunaan metode
FIFO akan menghasilkan kemungkinan laba tertinggi dibandingkan dengan
metode-metode yang lain, karena perusahaan cenderung untuk menaikkan harga
jualnya sesuai dengan perkembangan pasar tanpa memperhatikan kenyataan bahwa
barang yang terdapat dalam persediaaan telah diperoleh sebelum terjadinya
kenaikan harga (inventory profit/laba persediaan atau laba semu/illusory
profit).
d. Metode Rata-Rata
1. Periodik
Ikatan Akuntan
Indonesia (2007:14.21) merumuskan biaya rata-rata tertimbang, biaya setiap
barang ditentukan berdasarkan biaya rata-ratatertimbang dari barang serupa pada
awal periode dan biaya barang serupa yang dibeli atau diproduksi selama
periode. Perhitungan rata-rata dapat dilakukan secara berkala atau pada setiap
penerimaan kiriman, bergantung pada keadaan perusahaan.
Asumsi metode
ini adalah unit dijual tanpa memperhatikan urutan pembeliaannya dan menghitung
harga pokok penjualan serta persediaan akhir.
2. Rata-rata Bergerak (system pencatatan
perpetual)
Metode ini
tidak menandingkan biaya per unit paling akhir dengan pendapatan penjualan
periode berjalan. Namun menandingkan biaya rata-rata periode tersebut dengan
pendapatan dan nilai persediaan akhir, leh karena itu jika biaya per unit pasti
meningkat atau menurun maka metode rata-rata bergerak akan memberikan jumlah
persediaan dan harga pokok yang berada diantara metode penilaian FIFO dan LIFO.
CONTOH CARA PENGHITUNGAN DENGAN CARA LIFO, FIFO, AVERAGE:
CATATAN PERSEDIAAN
BARANG
PT. SUKSES JUANEVA
PER 31 DES 2014
|
Tanggal
|
Penjelasan
|
Jumlah
|
Harga Beli Per Unit
|
Harga Jual Per Unit
|
|
1 Januari
|
Saldo Awal
|
100 Unit
|
Rp 8.000.000
|
|
|
6 Januari
|
Pembelian
|
60 Unit
|
Rp 9.000.000
|
|
|
14 Januari
|
Penjualan
|
70 Unit
|
Rp 20.000.000
|
|
|
20 Januari
|
Pembelian
|
150 Unit
|
Rp 9.000.000
|
|
|
24 Januari
|
Penjualan
|
210 Unit
|
Rp 22.000.000
|
|
|
28 Januari
|
Pembelian
|
90 Unit
|
Rp 10.000.000
|
|
|
30 Januari
|
Penjualan
|
30 Unit
|
Rp 25.000.000
|
Catatan perusahaan menunjukan bahwa beban usaha untuk bulan
Januari 2016 besarnya Rp 1.900.000.000.
PT. LAPORAN RUGI LABA
PERIODE 31 JANUARI
2016
|
LIFO
|
FIFO
|
AVERAGE
|
|
|
Penjualan
|
Rp 6.770.000.000
|
Rp 7.660.000.000
|
Rp 6.770.000.000
|
|
Harga Pokok Penjualan
|
|||
|
Persediaan Awal
|
Rp 800.000.000
|
Rp 800.000.000
|
Rp 800.000.000
|
|
Pembelian Bersih
|
Rp 2.790.000.000
|
Rp 2.790.000.000
|
Rp 2.790.000.000
|
|
Harga Pokok Barang Yang Dapat Dijual
|
Rp 3.590.000.000
|
Rp 3.590.000.000
|
Rp 3.590.000.000
|
|
Persediaan Akhir
|
Rp 720.000.000
|
Rp 900.000.000
|
Rp 808.000.000
|
|
Harga Pokok Penjualan
|
Rp 2.870.000.000
|
Rp 2.690.000.000
|
Rp 2.782.000.000
|
|
Laba Kotor
|
Rp 3.900.000.000
|
Rp 4.080.000.000
|
Rp 3.988.000.000
|
|
Beban Usaha
|
Rp 1.900.000.000
|
Rp 1.900.000.000
|
Rp 1.900.000.000
|
|
Laba Bersih
|
Rp 2.000.000.000
|
Rp 2.180.000.000
|
Rp 2.088.000.000
|
Perhitungan :
Penjualan =
(70xRp20.000.000) + (210xRp22.000.000) + (30xRp 25.000.000)
= Rp 1.400.000.000 +
Rp 4.620.000.000 + Rp 750.000.000
= Rp 6.770.000.000
Persediaan awal =
100 x Rp 8.000.000
= Rp 800.000.000
Pembelian =
(60xRp9.000.000) + (150x 9.000.000) + (90xRp 10.000.000)
= Rp 540.000.000 + Rp 1.350.000.000 + Rp 900.000.000
= Rp 2.790.000.000
Persediaan Akhir :
FIFO =
90 x Rp 8.000.000 = Rp 720.000.000
LIFO =
90 x Rp 10.000.000 = Rp 900.000.000
AVERAGE = 90 x Rp
8.975.000= Rp 807.750.000 dibulatkan menjadi Rp 808.000.000
Jumlah Persediaan Akhir
= 100 + 60 – 70 + 150 – 210 + 90 – 30
= 90
Harga pokok barang yang dapat dijual
= (100xRp8.000.000) + (60x Rp9.000.000) + (150xRp 9.000.000)
+ (90x Rp 10.000.000)
= Rp 800.000.000 + Rp 540.000.000 + Rp 1.350.000.000 + Rp
900.000.000
= Rp 3.590.000.000
Rp 3.590.000.000/400 unit = Rp 8.975.000/unit
Jumlah barang untuk dijual = 400 unit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar