Kamis, 15 Oktober 2015

AHMAD NURUSSALAM 15.120.0030



   SISTEM PERSEDIAAN BARANG DENGAN FIFO, LIFO, DAN AVERAGE

 Metode LIFO (last in First Out)
1.       Sistem Periodik
Adalah penilaian persediaan yang ditentukan dengan cara saldo periodic yang ada dikalikan harga pokok per unit barang yang masuk pada awal periode. Bila saldo periodic terlalu besar dari barang yang masuk pada awal periode, diambilkan dari harga pokok per unit yang masuk berikutnya.
2.      Sistem Perpetual
Adalah suatu metode penilaian persediaan yang pencatatan persediaannya dilakukan secara terus-menerus dalam kartu persediaan.
HPP dicatat berdasarkan harga pokok pertama kali masuk. Jumlah yang masih tersisa merupakan nilai persediaan akhir. Dalam periode inflasi metode LIFO akan menghasilkan kemungkinan laba bersih terendah. Alasannya karena harga pokok barang yang diperoleh terakhir akan mendekati nilai ganti barang yang dijual.
Keuntungan lain adalah penghematan pajak karena laba yang dihasilkan adalah yang paling rendah sehingga akan menghasilkan pajak penghasilan yang lebih rendah.
Bila dibandingkan dengan metode FIFO ataupun metode rata-rata dalam periode deflasi, pengaruh yang terjadi adalah kebalikannya.
c.       Metode FIFO
Ikatan Akuntan Indonesia (2007 : 14.21) merumuskan FIFO sebagai berikut, “formula MPKP / FIFO mengasumsikan barang dalam persediaan yang pertama dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga yang tertinggal dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian”.
1.       Sistem Periodik
Persediaan akhir ditentukan dengan cara saldo periodic yang ada dikalikan dengan harga pokok per unit barang yang terakhir kali masuk. Bila saldo periodic ternyata lebih besar dari jumlah unit terakhir masuk, sisanya dipergunakan harga pokok per unit yang masuk sebelumnya.
2.      Sistem Perpetual                                        
Suatu metode penilaian persediaan yang pencatatan persediaannya dilakukan terus-menerus dalam kartu persediaan.
HPP dicatat berdasarkan harga pokok barang pertama masuk. Jumlah yang masih tersisa merupakan nilai persediaan akhir . Selama periode inflasi penggunaan metode FIFO akan menghasilkan kemungkinan laba tertinggi dibandingkan dengan metode-metode yang lain, karena perusahaan cenderung untuk menaikkan harga jualnya sesuai dengan perkembangan pasar tanpa memperhatikan kenyataan bahwa barang yang terdapat dalam persediaaan telah diperoleh sebelum terjadinya kenaikan  harga (inventory profit/laba persediaan atau laba semu/illusory profit).
d.      Metode Rata-Rata
1.       Periodik
Ikatan Akuntan Indonesia (2007:14.21) merumuskan biaya rata-rata tertimbang, biaya setiap barang ditentukan berdasarkan biaya rata-ratatertimbang dari barang serupa pada awal periode dan biaya barang serupa yang dibeli atau diproduksi selama periode. Perhitungan rata-rata dapat dilakukan secara berkala atau pada setiap penerimaan kiriman, bergantung pada keadaan perusahaan.
Asumsi metode ini adalah unit dijual tanpa memperhatikan urutan pembeliaannya dan menghitung harga pokok penjualan serta persediaan akhir.
2.      Rata-rata Bergerak (system pencatatan perpetual)
Metode ini tidak menandingkan biaya per unit paling akhir dengan pendapatan penjualan periode berjalan. Namun menandingkan biaya rata-rata periode tersebut dengan pendapatan dan nilai persediaan akhir, leh karena itu jika biaya per unit pasti meningkat atau menurun maka metode rata-rata bergerak akan memberikan jumlah persediaan dan harga pokok yang berada diantara metode penilaian FIFO dan LIFO.









CONTOH CARA PENGHITUNGAN DENGAN CARA LIFO, FIFO, AVERAGE:
CATATAN PERSEDIAAN BARANG
PT. SUKSES JUANEVA
PER 31 DES 2014

Tanggal
Penjelasan
Jumlah
Harga Beli Per Unit
Harga Jual Per Unit
1 Januari
Saldo Awal
100 Unit
Rp 8.000.000

6 Januari
Pembelian
60 Unit
Rp 9.000.000

14 Januari
Penjualan
70 Unit

Rp 20.000.000
20 Januari
Pembelian
150 Unit
Rp 9.000.000

24 Januari
Penjualan
210 Unit

Rp 22.000.000
28 Januari
Pembelian
90 Unit
Rp 10.000.000

30 Januari
Penjualan
30 Unit

Rp 25.000.000

Catatan perusahaan menunjukan bahwa beban usaha untuk bulan Januari 2016 besarnya  Rp 1.900.000.000.

PT. LAPORAN RUGI LABA
PERIODE 31 JANUARI 2016

LIFO
FIFO
AVERAGE
Penjualan
Rp 6.770.000.000
Rp 7.660.000.000
Rp 6.770.000.000
Harga Pokok Penjualan



Persediaan Awal
Rp    800.000.000
Rp    800.000.000
Rp    800.000.000
Pembelian Bersih
Rp 2.790.000.000
Rp 2.790.000.000
Rp 2.790.000.000
Harga Pokok Barang Yang Dapat Dijual
Rp 3.590.000.000
Rp 3.590.000.000
Rp 3.590.000.000
Persediaan Akhir
Rp    720.000.000
Rp    900.000.000
Rp    808.000.000
Harga Pokok Penjualan
Rp 2.870.000.000
Rp 2.690.000.000
Rp 2.782.000.000
Laba Kotor
Rp 3.900.000.000
Rp 4.080.000.000
Rp 3.988.000.000
Beban Usaha
Rp 1.900.000.000
Rp 1.900.000.000
Rp 1.900.000.000
Laba Bersih
Rp 2.000.000.000
Rp 2.180.000.000
Rp 2.088.000.000

Perhitungan :
Penjualan =  (70xRp20.000.000) + (210xRp22.000.000) + (30xRp 25.000.000)
=  Rp 1.400.000.000 + Rp 4.620.000.000 + Rp 750.000.000
=  Rp 6.770.000.000
Persediaan awal   = 100 x Rp 8.000.000
=  Rp 800.000.000
Pembelian  = (60xRp9.000.000) + (150x 9.000.000) + (90xRp 10.000.000)
= Rp 540.000.000 + Rp 1.350.000.000 + Rp 900.000.000
= Rp 2.790.000.000
Persediaan Akhir :
                FIFO = 90 x Rp 8.000.000 = Rp 720.000.000
                LIFO = 90 x Rp 10.000.000 = Rp 900.000.000
AVERAGE   = 90 x Rp 8.975.000= Rp 807.750.000 dibulatkan menjadi Rp 808.000.000
Jumlah Persediaan Akhir  = 100 + 60 – 70 + 150 – 210 + 90 – 30
= 90
Harga pokok barang yang dapat dijual
= (100xRp8.000.000) + (60x Rp9.000.000) + (150xRp 9.000.000) + (90x Rp 10.000.000)
= Rp 800.000.000 + Rp 540.000.000 + Rp 1.350.000.000 + Rp 900.000.000
= Rp 3.590.000.000

Rp 3.590.000.000/400 unit = Rp 8.975.000/unit

Jumlah barang untuk dijual = 400 unit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar